INTEGRITAS DALAM PERSPEKTIF PARA AHLI

Integritas dalam perspektif para ahli ~ Jika mendengar kata integritas, hal yang pertama kali terngiang di benak penulis adalah permasalahan kepemimpinan. Masalah kepemimpinan memang sering kali dikait – kaitkan dengan istilah yang satu ini. Ada banyak ahli manajemen yang mengatakan bahwa setiap pemimpin yang berhasil, selalu dilandasi dengan integritas yang tinggi. Menurut mereka, tanpa integritas yang tinggi, kepemimpinan yang dilaksanakannya tidak akan sukses atau pun berhasil.

Lantas, apa sih sebenarnya arti kata integritas? Kata integritas pada dasarnya berasal dari bahasa Latin yaitu dari Kata Integer yang artinya lengkap atau pun utuh. Jika diartikan dari asal katanya, maka kata integritas dapat diartikan sebagai sebuah usaha yang utuh dan lengkap yang didasari dengan kualitas, kejujuran, serta konsistensi karakter seseorang.

Perspektif para ahli terkait dengan integritas.
Setiap pakar memiliki perspektif tersendiri ketika memberi pengertiannya tentang integritas. Guna menambah wawasan kita tentang integritas, maka sangat penting bagi kita untuk melihat dan memahami bagaimana para pakar menjelaskan tentang konsep mereka berkaitan dengan integritas.

Henry Cloud
Menurut Henry Cloud, ketika berbicara mengenai integritas, maka tidak akan terlepas dari upaya untuk menjadi orang yang utuh dan terpadu di setiap bagian diri yang berlainan, yang bekerja dengan baik dan menjalankan fungsinya sesuai dengan apa yang telah dirancang sebelumnya. Integritas sangat terkait dengan keutuhan dan keefektifan seseorang sebagai insan manusia.

KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian integritas adalah mutu, sifat, dan keadaan yang menggambarkan kesatuan yang utuh, sehingga memiliki potensi dan kemampuan memancarkan kewibawaan dan kejujuran.

Ippho Santoso
Menurut Ippho Santoso, integiras sering diartikan sebagai menyatunya pikiran, perkataan dan perbuatan untuk melahirkan reputasi dan kepercayaan. Jika merujuk dari asal katanya, kata integritas memiliki makna berbicara secara utuh dan lengkap / sepenuh – penuhnya.

Andreas Harefa
Menurut Andreas Harefa, integritas merupakan tiga kunci yang bisa diamati, yakni menunjukkan kejujuran, memenuhi komitmen, dan mengerjakan sesuatu dengan konsisten.

Integritas Nasional
Selain dikait – kaitkan dengan kepemimpinan, istilah integritas juga sering dikait – kaitkan dengan kata nasional. Lantas apa sih arti dari integritas nasional? Jika diartikan secara sederhana integritas nasional merupakan integritas yang dijalankan dalam menjalankan negara. Sedangkan jika diartikan secara lebih luas, maka integritas nasional merupakan hasrad atau pun kesadaran yang timbul secara berkelanjutan dari setiap orang yang mengelola, tinggal, dan menetap di suatu negara untuk bisa mengembangkan dan menarik negara yang ditinggalinya menjadi lebih baik dan lebih maju.

Di Indonesia sendiri, integritas nasional pernah terjadi secara serempak pada Tanggal 28 Oktober 1928, yaitu pada hari Sumpah Pemuda. Pada waktu itu, seluruh pemuda di Indonesia secara serempak bekerja sama untuk melawan penjajah dan memperjuangkan kerdekaan Indonesia.

INTEGRITAS DALAM KEPEMIMPINAN KRISTEN

Integritas dalam kepemimpinan Kristen ~ Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, integritas adalah mutu, sifat, atau keadaan yg menunjukkan kesatuan yg utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yg memancarkan kewibawaan dan kejujuran. Menurut Mario Teguh, motivator ternama di Indonesia, integritas adalah kesetiaan kepada yang benar.

Hal ini sejalan dengan pengertian integritas menurut Wikipedia yang berarti suatu konsep yang menunjuk konsistensi antara tindakan dengan nilai dan prinsip. Nilai dan prinsip ini tentunya tidak lepas dari yang namanya kebenaran. Oleh karena itu orang yang memiliki integritas pasti akan menjadi orang yang jujur dan menyukai keadilan.

Hubungan Integritas dan Pemimpin
Integritas ini dibutuhkan oleh siapa saja, tidak hanya pemimpin namun juga yang dipimpin. Integritas sebagai pemimpin dapat membawa yang dipimpin menjadi lebih baik. Pemimpin yang memiliki integritas hanya akan berpikir bahwa dirinya itu melayani siapa saja yang dipimpinnya, bukan sebaliknya.

Sedangkan seorang pengikut yang memiliki integritas berpikir bahwa dirinya harus melayani pemimpin selama pemimpin itu benar sesuai nilai prinsip dan moral. Dengan begitu akan terjadi pelayanan dua arah dimana akan menunjang pembangunan yang berkelanjutan. Pemimpin yang melayani pengikut bisa menjadi adil. Hal ini membuat pengikutnya senang dan mengikuti apa yang diperintahkan karena mereka yakin bahwa pemimpin tersebut memiliki integritas dan lebih banyak benar.
Integritas berhubungan dengan dedikasi atau pengerahan segala daya dan upaya untuk mencapai satu tujuan. Integritas ini yang menjaga seseorang supaya tidak keluar dari jalurnya dalam mencapai sesuatu. Seorang pemimpin yang berintegritas, tidak akan mudah korupsi atau memperkaya diri dengan menyalahgunakan wewenang. Seorang pengusaha yang berintegritas tidak akan menghalalkan segala cara supaya usahanya lancar dan mendapatkan keuntungan tinggi. Singkatnya, orang yang memiliki integritas tetap terjaga dari hal-hal yang mendistraksi dirinya dari tujuan mulia.

Singkatnya adalah orang yang memiliki integritas lebih menyukai proses yang benar untuk menghasilkan sesuatu yang benar. Hasil tidak menjustifikasi proses dan proses tidak menjustifikasi hasil, keduanya harus berjalan dengan baik dan benar. Orang yang berintegritas itu anti jalan pintas, apalagi mendapakan sesuatu dengan cara meretas. Mereka adalah lawan dari orang-orang yang munafik. Sementara orang munafik bersikap tidak sama dengan kata-kata, orang berintegritas melakukan hal sesuai dengan yang ia katakan. Silat lidah tak berlaku bagi orang yang memiliki integritas karena ia adalah orang yang mengatakan bisa jika memang bisa dan mengatakan tidak bisa jika memang ia tidak mampu.

KETIKA PEMIMPIN MENGAKHIRI TUGAS KEPEMIMPINAN

Ketika pemimpin mengakhiri tugas kepemimpinan – Bagi seorang pemimpin dalam memimpin sebuah organisasi, ada waktu untuk diangkat dan ada waktu harus turun karena batasan rentang waktu yang sudah ditentukan. Tidak mudah bagi seseorang untuk lengser setelah sekian lama memimpin, karena memang memimpin ada keistimewaannya baik suka maupun duka. Harus diakui ada banyak fasilitas yang diterima waktu menjadi pemimpin dan itu akan hilang bersamaan dengan turunnya sang pemimpin.

Ada rasa hormat yang selalu diterima pemimpin dan itu akan juga hilang bersamaan dengan sang pemimpin menuruni tangga jabatan. Maka tidak sedikit pemimpin berusaha mempertahankan diri, mengangkat keluarganya, atau bahkan menciptakan pemimpin boneka sehingga sang pemimpin masih memegang kontrol kepemimpinan. Padahal jauh lebih elok bila pemimpin turun dengan menyiapkan kepemimpinan selanjutnya. Rasa hormat dan wibawa serta kuasa tetap menjadi bagian dalam kehidupan sang pemimpin sekalipun dia harus turun. Pemimpin sejati tidak pernah takut kehilangan fasilitas dan keistimewaan karena Tuhan itu berdaulat memelihara sekalipun dia harus meninggalkan posisinya.

Bila sudah waktunya, bagaimana seharusnya turun dengan baik dan terhormat?
1. Siapkan proses pemilihan dan pengganti dengan baik.
Jangan ciptakan putra mahkota yang disiapkan untuk menjadi pengganti kecuali itu organisasi itu milik pribadi. Tujuan menyiapkan beberapa pengganti tanpa perlu ada anak emas adalah agar pemimpin tidak merasa berjasa bahwa dia menaikkan orang itu sehingga pemimpin baru akan kikuk mengembangkan organisasi lebih lagi karena harus menunggu persetujuan pemimpin sebelumnya. Siapkan beberapa calon pemimpin secara baik dan biarkan Tuhan menetapkan pemimpin baru lewat doa dan pemilihan yang rohani. Yang terpilih wajib merangkul yang tidak terpilih karena ini bukan kepemimpinan politik.

2. Pemimpin yang sudah lengser harus belajar menahan diri dalam segala hal. Pemimpin yang sudah lengser harus belajar menahan diri dalam segala hal terutama memberikan masukan kepada kepemimpinan yang baru. Apalagi masukan itu dilakukan dengan menggunakan media sosial. Contoh yang nyata yang tidak bisa dicontoh misalnya mantan presiden terdahulu suka menggunakan media sosial dalam memberikan masukan kepada presiden yang baru. Apalagi kemudian dipanas-panasi oleh pendukungnya. Situasi ini menjadi tidak nyaman bagi pemimpin baru dan kepemimpinannya karena merasa didikte. Bukan tidak mungkin ini akan terjadi konflik. Mungkin perlu belajar diam dan menahan diri dalam memberikan nasihat bila tidak diminta. Sekalipun diminta untuk menasihati, harus dilakukan secara pribadi empat mata.

3. Menyiapkan semua pelaporan dan inventaris kepada pemimpin selanjutnya lewat akuntabilitas yang baik dan benar.
Gosip akan beterbangan jika pemimpin gagal memberikan pertanggungjawaban kepada pemangku kepentingan dalam organisasi, Juga pemimpin lama diharapkan memperkenalkan jejaring yang dimilikinya sehingga organisasi dapat dikembangkan lebih jauh.

4. Pemimpin lama harus siap menjadi bawahan yang baik dan mendukung kepemimpinan yang ada.
Memang tidak mudah menjadi bawahan karena sudah terbiasa menjadi atasan yang selalu memberi perintah dan menjadi orang yang paling puncak dalam memberikan keputusan. Jika itu lepas, maka tidak mudah balik menjadi bawahan. Dibutuhkan suatu kebesaran jiwa. Kehebatan seorang pemimpin justru terlihat bagaimana setelah dia turun jabatan dan bagaimana memberikan kesempatan seluasnya untuk penggantinya menjadi pemimpin yang hebat tanpa direcoki! (DR)


MANFAAT TARGET DALAM TUGAS KEPEMIMPINAN

Pemimpin dalam melaksanakan tugas kepemimpinan, salah satu faktor yang harus menjadi perhatian dari seorang pemimpin ialah target kepemimpinan. Pemimpin harus mampu menetapkan dan menentukan target yang harus dicapai di dalam melakukan tugas kepemimpinan. Target memiliki hubungan erat dengan program yang dicanangkan oleh pemimpin dalam sebuah organisasi. Program yang dilaksanakan harus ada batas waktu penyelesaian dan pencapaian.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka dalam tataran organisasi, pemimpin harus memiliki target kerja yang pasti dan tepat waktu. Karena hal itulah yang akan menentukan prestasi kerjanya tingg atau rendah.

Untuk bisa memperoleh kesuksesan dalam kepemimpinan, seorang pemimpin harus memiliki target. Apa keuntungannya bagi seorang pemimpin bila ia memiliki target dalam kepemimpinannya? Berikut ini beberapa keuntungan yang diperoleh dengan adanya target dalam kepemimpinan seorang pemimpin.

1. Target memberi motivasi
Dengan adanya target dari seorang pemimpin, maka hal itu akan memberi semangat dan daya juang tinggi kepada pemimpin untuk mewujudkan target kepemimpinannya. Artinya, pemimpin bekerja untuk target dan sebaliknya target-target itu bekerja untuk pemimpin. Target memberi sasaran yang jelas untuk dicapai. Jika Anda menjalankan dan menyelesaikannya, maka Anda akan mendapatkan perasaan puas dan lega.

2. Target memacu keinginan
Sering kita berjumpa dengan pemimpin yang tidak bahagia dengan kehidupan dan keadaan sekelilingnya. Salah satu pemicu dari kondisi tersebut ialah karena pemimpin tidak mempunyai gambaran yang jelas tentang kehidupan yang mereka inginkan. Mereka tidak punya target untuk meningkatkan kualitas kehidupan mereka, juga tidak punya arah yang akan mereka tuju. Akibatnya, mereka terus saja hidup dalam keadaan yang sama tanpa ada usaha untuk mengubahnya. Sebaliknya, pemimpin yang bahagia dengan kehidupan dan kepemimpinannya adalah pemimpin yang tahu dengan jelas gambaran kehidupan yang dia inginkan. Ada target-target spesifik yang disusunnya, sehingga ia memacu keinginannya untuk mencapainya.

3. Target memacu cara kerja
Cara pemimpin mengatasi masalah kepemimpinan sangat bergantung pada caranya memandang targetnya. Kalau pemimpin mempunyai target yang dianggap tidak penting, maka pekerjaan yang dilakukannya untuk menyelesaikannya pasti asal saja. Sebaliknya, kalau target-target dianggap sangat penting, maka penyelesaiannya pasti dilakukan dengan serius.

Oleh sebab itu, amatlah penting untuk menyusun target berdasarkan visi kepemimpinan Anda. Jika target Anda mendorong visi Anda, maka usaha Anda untuk menyelesaikan target itu semakin kuat.

PENGERTIAN MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA

Pengertian manajemen sumber daya manusia – Manajemen sumber daya manusia yang disingkat (MSDM) menjadi bagian dari manajemen yang fokus pada peranan pengaturan manusia dalam mewujudkan tujuan organisasi/perusahaan/ institusi/gereja. Lalu apa yang dimaksud dengan manajemen sumber daya manusia itu? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, maka di bawah ini akan disajikan pendapat para tokoh di bidang manajemen sumber daya manusia.

Menurut Malayu S.P. Hasibuan, terkait dengan MSDM mengatakan bahwa: “MSDM adalah ilmu dan seni mengatur hubungan dan peranan tenaga kerja agar efektif dan efisien membantu terwujudnya tujuan perusahaan, karyawan, dan masyarakat”.[1]

Selanjutnya Moses N. Kiggundu yang dikutip oleh Ambar Teguh Sulistyani dan Rosidah menjelaskan bahwa: “MSDM adalah pengembangan dan pemanfaatan pegawai dalam rangka tercapainya tujuan dan sasaran individu, organisasi, masyarakat, bangsa dan internasional”.[2]

Kemudian Michael Armstrong memberi penjelasan bahwa: “MSDM adalah suatu pendekatan terhadap manajemen manusia yang berdasarkan empat prinsip dasar, yaitu: 1) Sumber daya manusia adalah harta paling penting yang dimiliki suatu organisasi, sedangkan manajemen yang efektif adalah kunci bagi keberhasilan organisasi tersebut. 2) Keberhasilan organisasi sangat mungkin dicapai jika peraturan atau kebijaksanaan dan prosedur yang bertalian dengan manusia dari perusahaan tersebut saling berhubungan, serta memberikan sumbangan terhadap pencapaian tujuan perusahaan dan perencanaan strategis. 3) Kultur dan nilai perusahaan, suasana organisasi dan perilaku manajerial yang berasal dari kultur tersebut akan memberikan pengaruh yang besar terhadap hasil pencapaian yang terbaik. 4) MSDM berhubungan dengan integrasi, yakni semua anggota organisasi anggota tersebut dan bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama.[3]

Berdasarkan butir-butir pengertian di atas, maka dapat dikatakan bahwa manajemen sumber daya manusia ialah suatu ilmu dan seni melakukan perencanaan, pengelolaan, dan pengembangan segala potensi sumber daya manusia yang tersedia serta relasi inter dan antar personal dalam sebuah organisasi yang didesain secara  terstruktur dan sistematis, sehingga mampu mencapai efektivitas dan efisiensi kerja untuk mencapai tujuan, baik individu, organisasi dan masyarakat.




[1] Malayu S.P. Hasibuan, Manajemen Sumber Daya Manusia, Jakarta Bumi Aksara, 2003, hlm. 10.
[2] Ambar Teguh Sulistyani dan Rosida, Manajemen Sumber Daya Manusia, Yogyakarta: Graha Ilmu, 2003, hlm. 11.
[3] Michael Armstrong, Manajemen Sumber Daya Manusia, Jakarta: Elexmedia Komputindo, 2005, hlm. 1.

SIKAP PEMIMPIN DALAM MENYIKAPI TANTANGAN KEPEMIMPINAN

4. Pemimpin harus siap menghadapi teror/penolakan
Pengalaman yang paling menyakitkan bagi seorang pemimpin adalah dikhianati oleh orang yang paling dipercaya atau orang yang kita anggap aman dengan orang itu. Kita dapat bersikap terbuka, apa adanya. Shock dan kepahitan yang dialami orang yang dikhianati serupa dengan yang dialami orang yang diceraikan oleh pasangan hidupnya, ditolak oleh sang kekasih yang seharusnya mencintai dan melindungi.

Dalam banyak hal, kepemimpinan adalah suatu jalinan hubungan, dan kalau Anda seorang pemimpin yang efektif, umumnya Anda perlu membangun hubungan yang dekat dengan orang-orang. Wajar, awalnya kita bersikap hati-hati, jangan terlalu mempercayai seseorang. Kita sadar bahwa kita harus membuat penilaian yang tepat tentang siapa yang dapat kita percayai. Bila tidak akibatnya akan membuat kita teramat menderita. Namun demikian, ada kalanya pemimpin yang paling cermat dalam membuat penilaian pun bisa terkecoh oleh orang-orang lihai berpura-pura tulus bersahabat.

Pada kenyataannya orang itu mempunyai agenda yang berbeda. Seorang pemimpin selalu berhadapan dengan bahaya semacam itu. Dalam sebuah survei di kalangan para pendeta, jurnal leadership mendapai sekitar enam puluh persen dari para pendeta pernah mengalami setidaknya satu kejadian traumatis yang terlalu sulit untuk diterima. Kebanyakan dari mereka mengatakan bahwa mereka merasa dikhianati oleh orang-orang yang mereka sangka dapat dipercaya. 

Mungkin Anda tidak akan pernah mengalami penghianatan. Tetapi pada kenyataannya, ini sesuatu yang sangat mungkin Anda alami suatu hari di masa depan. Mungkin saja Anda diberondong kata-kata sumbang, dipermalukan dan ditertawakan atau ada orang yang menentang atau mencela perbuatan kasih Anda. Bagaimana Anda memberi rekasi saat hal tersebut terjadi akan menentukan apakah Anda akan terus mengemban kepemimpinan dengan penuh daya dan semangat atau Anda akan jatuh menjadi korban.

Helen Keller mengatalkan: “ Pembentukan karakter tidak terjadi dalam kemudahan dan ketenangan. Hanya lewat cobaan dan penderitaan sajalah jiwa dapat diperkuat, visi dapat diperjernih, ambisi terinspirasi, dan keberhasilan tercapai.” Jika Anda mendapat cercaan atau ejekan dari pihak-pihak yang tidak menginginkan kemajuan Anda maka jangan menyerah, jangan merendahkan diri ke tingkatan mereka. Anda harus tetap percaya diri dalam melakukan tugas Anda dengan sebaik mungkin.

McCornick mengatakan: “Jangan menyerah! Bekerjalah dengan giat. Bertahan dan sabar. Mungkin akan menghabiskan banyak waktu............Jangan menyerah terhadap tekanan orang-orang yang menyukai status quo. Anda bisa mencapai hasil yang lebih baik – demikian pula halnya dengan organisasi tempat Anda bernaung.”

5. Pemimpin harus menundukkan ego
Kata “ego” setidaknya mempunyai dua definisi 1) “memandang atau menilai diri sendiri secara berlebihan”, sama dengan kesombongan; 2) “kesadaran akan martabat dan nilai diri”’ sama dengan respek terhadap diri sendiri. Menundukkan ego berkaitan dengan seberapa efektifnya ego kita ditandai oleh definisi kedua, bukan definisi kesatu. Penundukkan ego berhubungan dengan kerendahan hati. Kerendahan hati bukan menyangkal kemampuan yang ada pada diri Anda, tetapi menyadari bahwa kemampuan itu datang melalui Anda, bukan dari Anda. Di bidang politik dan perdagangan, kerendahan hati bukanlah suatu sifat yang diinginkan atau diperlukan. Pemimpin mencari nama dan kedudukan. Tetapi menurut ukuran Allah, kerendahan hati mendapat tempat yang sangat tinggi.

Tidak menonjolkan diri, tidak mengiklankan diri adalah definisi yang diberikan Kristus untuk kepemimpinan. Pada waktu melatih murid-murid-Nya untuk kedudukan kekuasaan pada masa yang akan datang, Ia berkata kepada mereka, agar mereka tidak menjadi sombong dan suka berkuasa seperti penguasa yang sewenang-wenang, melainkan hendaknya mereka rendah hati dan sederhana seperti Tuhan mereka (Mat. 20:25-27). 

Seorang pemimpin rohani akan memilih pelayanan yang penuh pengorbanan yang tidak digembor-gemborkan dan yang sesuai dengan kehendak Tuhannya, bukan tugas yang megah dan pujian yang berlebih-lebihan dari orang-orang yang tidak rohani. Kerendahan hati seorang pemimpin sama seperti kerohaniannya, harus menjadi sifat yang terus bertumbuh. Kita dapat mengambil pelajaran dari kerendahan hati Paulus yang semakin bertambah dengan berlalunya waktu.

Pada permulaan pelayanannya, sementara ia mengingat kisah hidupnya yang telah berlalu dan yang sekarang sangat dibencinya, ia mengaku. “Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul” (I Kor 15:9). Beberapa waktu kemudian secara sukarela ia berkata, “Kepadaku, yang paling hina diantara segala orang kudus , telah dianugerahkan kasih karunia ini” (Ef.3:8). Ketika usianya semakin lanjut, dan ia sedang mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Tuhannya, ia berkata dengan sedih, “Akulah yang paling berdosa” (I Tim 1:15).

Dalam bukunya Serius Call, William Law menasehatkan: Biarlah tiap-tiap hari menjadi kesempatan untuk rendah hati: memaklumi segenap kelemahan dan kerapuhan sesama manusia, menutupi kelemahan mereka, mengasihi sifat-sifat yang baikmendorong kebajikan mereka, mencukupkan kebutuhan mereka, bersukacita di dalam kecukupan mereka, menghibur mereka yang dalam kesusahan, menerima persaha-batan mereka, mengabaikan sikap mereka yang tidak baik, mengampuni kebencian mere-ka,menjadi hamba dari segala hamba, dan menyediakan diri untuk melakukan pekerjaan yang paling hina yang dilakukan manusia yang terendah. Penundukkan ego sangat diperlukan oleh seorang pemimpin kontekstual supaya ia dapat melihat keindahan di balik sikap yang mulia itu.


SIKAP PEMIMPIN DALAM MENYIKAPI TANTANGAN KEPEMIMPINAN PART 1

Sikap pemimpin dalam menyikapi tantangan kepemimpinan – Pemimpin selalu dihadapkan dengan tantangan kepemimpinan baik yang datang dari luar organisasi (eksternal) maupun tantangan yang muncul dari dalam (internal organisasi). Seorang pemimpin yang baik, harus terbuka dalam menerima kritik, belajar dari kegagalan, menyadari keterbatasan diri, siap menghadapi penghianatan/penolakan, serta harus menundukkan ego.

Pertanyaan penting yang harus diajukan ialah: “Apa saja sikap pemimpin dalam menyikapi tantangan kepemimpinan?” Ada beberapa sikap yang dapat ditumbuh-kembangkan oleh setiap pemimpin dalam menyikapi tantangan kepemimpinan, yaitu:

1. Pemimpin harus menerima kritik
Semua pemimpin mendapat kritik. Bagaimana reaksi seorang pemimpin terhadap kritik, itulah yang membuat berbeda. Biasanya reaksi alamiah kita terhadap kritik melibatkan soal emosi. Dan ini bermula dari perasaan tersinggung, terluka hingga perasaan ingin membalas. Pantas atau tidak patas, masuk akal atau tidak masuk akal, kritik itu menyakitkan. Kita mungkin menyadari bahwa kritik adalah sesuatu yang tidak terhindari, tetapi saat kritik menikam, kita benar-benar merasakannya. 

Fred Smith, yang sudah menjadi mentor bagi banyak pemimpin, menasehati, “Ubalah kritik yang ditujukan kepada Anda menjadi guru yang mengajar”. Kita memerlukan pengajaran yang dapat kita peroleh tentang diri kita sendiri dan tentang tantangan-tantangan yang harus kita hadapi. Kalau kita memandang kritik sebagai sumber pengajaran, maka kritik yang paling menyakitkan pun dapat kita manfaatkan untuk membuat kita maju.

2. Pemimpin harus belajar dari Kegagalan
Winston Churchill sebagaimana dikutib oleh Harold Myra mengatakan: “Mengalami kegagalan demi kegagalan tanpa kehilangan semangat adalah suatu keberhasilan”. John C. Maxwell mengatakan: “Kesederhanaan Henry Ford menyentuh hati nurani saya. Kegagalan tidak pernah menghukum dia, dan bukan hal yang fatal. Seperti sahabatnya, Thomas Edison, ia mengharapkan kegagalan dalam meraih sukses. Ia membiarkan kegagalan sebagai pembimbing, dan melanjutkan berusaha dengan cara yang lebih cerdik dan bijaksana.”

Tidak ada pemimpin yang suka dengan kegagalan. Kegagalan seorang pemimpin menimbulkan konsekuensi yang teramat besar. Kesalahan menilai, kesalahan visi, dan kelemahan pengendalian diri tidak hanya berpengaruh pada diri seseorang, tetapi juga pada pengikut dan tujuannya. Kegagalan tidak dapat dianggap enteng. Kegagalan seumpama pendamping yang tidak terhindari dari sebuah visi yang besar. Tidak ada orang yang dapat menjalani tantangan yang signifikan dan sulit tanpa tersandung beberapa kali. Yang penting bagaimana kita memberi tanggapan. Tujuan kita bukan bebas dari kegagalan.

Tujuan kita adalah mempunyai pola yang semakin efektif. Sebagai penganalisis tokoh-tokoh dunia yang membentuk abad ke 20, David Aikman berkata, “Kualitas luhur seringkali tidak bergantung pada absennya kesalahan, tetapi pada kesediaan untuk dengan cepat mengakui dan memperbaiki kesalahan. Setiap pemimpin harus belajar dari kegagalan. Kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Kegagalan adalah guru yang paling baik untuk memperbaiki kesalahan di masa lalu dan menyambut hari esok yang lebih baik dan berhasil.

3. Pemimpin harus menyadari keterbatasan diri
Kekuatan yang besar biasanya dibarengi dengan kelemahan yang signifikan. Orang yang visioner mungkin saja mengabaikan detail-detail yang vital; pemimpin yang menjadi motor penggerak mungkin saja tidak sadar akan efek negatif yang ditimbulkannya pada diri orang-orang yang dimotorinya. Seorang pemimpin yang efektif, apalagi seorang pemimpin yang piawai menerima kelemahannya sendiri dan memanfaatkannya. Pertama-tama ia mengakui kelemahannya, lalu mengadaptasikannya, mengadakan pendelegasian, dan tak henti belajar.


Dalam banyak hal, sangat bermanfaat untuk menyadari bahwa tidak ada satu orang pun yang tahu sebegitu banyak. Dalam dunia yang begitu luas dan rumit ini, yang dimiliki orang-orang hanyalah seiris tipis pengetahuan dan wawasan. Dalam dunia yang selalu berubah-ubah tidak ada satu set pemgetahuan pun yang cukup untuk dapat diandalkan. John Naisbit berkata: “Untuk masa depan sejauh yang masih dapat diperkirakan, tidak ada satu subyek atau satu set subyek pun yang dapat Anda andalkan, apalagi bagi sisa hidup Anda selanjutnya. Keahlian yang paling perlu kita peroleh sekarang ialah : Belajar bagaimana belajar.” Sebagai seorang pemimpin kita semua mempunyai keterbatasan diri dalam berbagai bidang kehidupan.

CIRI PEMIMPIN YANG BERINTEGRITAS PART 5

Ciri pemimpin yang berintegritas - Mencermati situasi dan kondisi dunia kepemimpinan akhir-akhir ini, tentu kita merasa miris. Mengapa? Karena para pemimpin baik pemimpin umum maupun pemimpin Kristen menampilkan suatu kehidupan yang menyedihkan secara khusus dari aspek integritas. Dalam pelaksanaan tugas kepemimpin, mereka acap kali melakukan tindakan yang tidak terpuji, dekandensi moral dan perilaku korup yang begitu mengerikan.

Sebagai pemimpin Kristen, tentu kita punya kriteria yang menjadi standar tertinggi dari kehidupan dan perilaku kita di dalam melaksanakan tugas kepemimpinan yang Tuhan percayakan. Pada kesempatan ini, saya akan menyajikan ciri pemimpin Kristen yang berintegritas. Tulisan ini saya buat berseri, agar para pembaca dan pengunjung setia blog ini tidak cepat bosan membaca tulisan ini. Dan lebih khusus dapat menyimak secara seksama keseluruhan dari ciri pemimpin yang berintegritas.

8. Bersikap konsisten.
John C. Maxwell mengatakan depalan puluh persen dari apa yang dipelajari orang datang melalui stimulasi visual, sepuluh persen melalui stimulasi pendengaran dan satu persen melalui indera lainnya.

Merupakan hal yang masuk akal bahwa semakin banyak pengikut melihat dan mendengar pemimpinnya konsisten dalam tindakan dan perkataan, akan semakin besar pula konsistensi dan loyalitas mereka.

Apa yang mereka dengar, mereka pahami. Apa yang mereka lihat, mereka percayai. Pemimpin yang memiliki konsistensi dapat dilihat dari tanggung jawab dalam mengatur semua hal yang dipercayakan kepadanya.

Pemimpin harus sadar  bahwa apa yang dipercayakan kepadanya adalah kepercayaan yang harus dikerjakan dengan sebaik-baiknya. Ciri-ciri tersebut, jika secara utuh terwujud dapat menimbulkan kepercayaan para pengikut terhadap pimpinannya. Kepercayaan tersebut merupakan modal yang berharga bagi para pemimpin Kristen dalam mewujudkan visi dan misi Allah di dunia. Anda juga membutuhkan bahan kepemimpinan Kristen ini:  KEPEMIMPINAN MENURUT NAPOLEON BONAPARTE.

CIRI PEMIMPIN YANG BERINTEGRITAS PART 4

Ciri pemimpin yang berintegritas - Mencermati situasi dan kondisi dunia kepemimpinan akhir-akhir ini, tentu kita merasa miris. Mengapa? Karena para pemimpin baik pemimpin umum maupun pemimpin Kristen menampilkan suatu kehidupan yang menyedihkan secara khusus dari aspek integritas. Dalam pelaksanaan tugas kepemimpin, mereka acap kali melakukan tindakan yang tidak terpuji, dekandensi moral dan perilaku korup yang begitu mengerikan.

Sebagai pemimpin Kristen, tentu kita punya kriteria yang menjadi standar tertinggi dari kehidupan dan perilaku kita di dalam melaksanakan tugas kepemimpinan yang Tuhan percayakan. Pada kesempatan ini, saya akan menyajikan ciri pemimpin Kristen yang berintegritas. Tulisan ini saya buat berseri, agar para pembaca dan pengunjung setia blog ini tidak cepat bosan membaca tulisan ini. Dan lebih khusus dapat menyimak secara seksama keseluruhan dari ciri pemimpin yang berintegritas.

6. Bersikap setia.
Beberapa kata setia di dalam Alkitab diterjemahkan dari pistos. Kata pistos memuat makna setia (faithful), loyal, dapat diandalkan (reliable), dapat dipercaya (trustworthy), dan percaya/beriman pada bosnya (trustful). Sehingga, seorang hamba yang pistos pastilah mempunyai ciri setia, loyal, dapat diandalkan, dan dapat dipercaya.

Implikasinya, seorang yang setia pasti juga bertanggung jawab dan berkomitmen. Seorang pemimpin Kristen yang berintegritas sadar bahwa dia adalah hamba Tuhan dan dipilih oleh Allah untuk menjadi pemimpin. Dia harus setia kepada Allah yang sudah mengutusnya. Seorang pemimpin Kristen juga harus setia kepada organisasi yang dipimpinnya. Sikap setia juga dapat diartikan lebih luas, yaitu setia kepada keluarganya, istrinya dan keyakinannya.

7. Menjadi teladan bagi orang lain.
Kebutuhan yang paling mendesak saat ini akan pemimpin bukanlah pemimpin yang paling cepat, paling pintar, paling hebat, tetapi pemimpin seperti Kristus. Pemimpin yang memimpin melalui teladan. Jika seorang pemimpin benar dari dalam, maka perilakunya di luar akan benar.

Memimpin yang efektif melalui teladan. Orang lebih cenderung melakukan apa yang mereka lihat. Keterlibatan pribadi pemimpin menunjukkan bahwa hal itu penting. Perilaku merupakan khotbah yang paling efektif. Meneladani juga membantu orang lebih memahami peran yang diharapkan. Seorang pemimpin yang baik dan berkualitas akan dinobatkan anak buahnya sebagai panutan. Bukan hanya didasarkan pada hubungan emosional, pertemanan, kekeluargaan dan kekerabatan.

Tetapi lebih jauh dari itu semua, yaitu ditentukan oleh sejauh mana ia dapat memberikan contoh dalam sikap, tutr kata dan perilaku sehari-hari. Seorang pemimpin yang baik dan berkualitas berani bertanggungjawab atas apa yang dikatakannya dan dilakukannya, sehingga ia harus tahu betul hal-hal yang seharusnya tidak dikatakan atau dilakukan dan seharusnya dikatakan atau dilakukan.

Bila seorang pemimpin mampu menjadi panutan bagi orang yang dipimpinnya, ia akan berhasil menjadi pengayom dan pelindung bawahannya. Ia bisa memberikan rasa aman dan tenang pada anak buah, karena ia dinilai tidak cuma berkualitas dari sisi kerja tetapi juga dari sisi pribadi. Anda juga butuh bahan kepemimpinan ini: SIFAT DASAR KEPEMIMPINAN KRISTEN PART 2.