Diberdayakan oleh Blogger.

Sikap Pemimpin Dalam Pelayanan

6 Jun 2012

"Satu-satunya yang saya inginkan ialah supaya saya mengenal Kristus, dan mengalami kuasa yang menghidupkan Dia dari kematian. Saya ingin turut menderita dengan Dia dan menjadi sama seperti Dia dalam hal kematian-Nya" - Filipi 3:10. Salah satu unsur terpenting dalam suksesi kepemimpinan seorang pemimpin ialah sikapnya dalam melayani Tuhan dan jemaat. Bila sikap pemimpin negatif, maka hasilnya akan terlihat dalam kepemimpinannya. Jika sikap pemimpin positif, juga akan nampak dalam aktualisasi kepemimpinannya. Rasul Paulus adalah seorang pemimpin ulet. Keuletannya sebagai pemimpin terlihat jelas dalam aktualisasi dirinya dalam melayani Tuhan dan jemaat. Salah satu faktor penunjang utama ialah sikap batinnya yang begitu cemerlang dalam pelayanan. Dari bagian firman Tuhan di atas, ada beberapa sikap Paulus sebagai pemimpin yang patut kita ikuti. 1. Mengenal Yesus Kristus Sebagai pemimpin rohani, Paulus memiliki keinginan dan kemauan yang kuat untuk lebih mengenal Yesus Kristus. Karena bagi Paulus, kunci kesuksesannya dalam melayani Tuhan, sangat ditentukan oleh pengenalannya akan Yesus Kristus. Pengenalan akan Yesus Kristus merupakan landasan yang teguh bagi Paulus untuk membangun dan mengembangkan pelayanannya. Jadi, bagi kita sebagai pemimpin rohani, berlaku juga hukum di atas, yaitu mengenal Yesus Kristus sebagai PEMIMPIN kita. Jangan sampai pengetahuan dan wawasan kita luas, namun pengenalan kita akan Yesus Kristus sangat minim. Oleh sebab itu, kita harus memiliki kerinduan terdalam untuk membangun pengenalan yang benar akan Yesus Kristus. Karena, pengenalan kita akan Yesus Kristus akan berpengaruh terhadap dinamika pelayanan kita. 2. Mengalami kuasa kebangkitan Kristus Yesus bangkit mengalahkan tantangan terberat dan terbesar yang dihadapi oleh PEMIMPIN, yaitu maut dan kuasa dosa. Kebangkitan-Nya memiliki dampak yang dahsyat terhadap pelayanan kepemimpinan. Yesus telah membuka ruang dan menjamin bahwa setiap pemimpin yang mengalami kuasa kebangkitan-Nya akan mampu mengatasi tantangan dan kesukaran dalam kepemimpinannya. Rasul Paulus mengetahui rahasia itu. Karenanya, dia berusaha untuk ada di dalam pengalaman kebangkitan Kristus yang memiliki kuasa menghancurkan pintu-pintu baja yang dibangun oleh musuh dalam kepemimpinannya. Jadi, bagi kita sebagai pemimpin rohani di akhir zaman ini, biarlah kita juga memiliki kerinduan yang sama seperti rasul Paulus,yaitu mengalami kuasa kebangkitan Kristus. Karena kita tahu bahwa dalam pelayanan kepemimpinan acap kali kita mengalami situasi dan kondisi sulit. Tantangan dari dalam dan dari luar begitu kuat menghantam pelayanan kita. Tetapi di dalam kuasa kebangkitan Kristus, kita tetap tegak berdiri dan tidak sampai tergeletak. 3. Bersekutu dengan penderitaan Kristus Kata "bersekutu" artinya menjadi satu, tidak terpisahkan, melebur bersama. Bersekutu dengan penderitaan Kristus, artinya menjadi satu dan tidak terpisahkan serta melebur bersama dengan penderitaan-Nya. Rasul Paulus tahu bahwa menjadi pengikut Kristus, tidak akan membebaskan dia dari penderitaan. Penderitaan sudah menjadi bagian dari hidup dan pelayanannya. Sebagai pemimpin, Paulus tidak berusaha untuk menghindar dari penderitaan. Justru sikap mentalnya terhadap penderitaan sudah terkonsep dan terbangun dengan benar. Itu sebabnya, Paulus tidak pernah setapak pun mundur dari pelayanan ketika menghadapi dan mengalami penderitaan. Jadi, sebagai pemimpin rohani masa kini, kita juga tidak akan luput dari penderitaan karena melayani Yesus Kristus. Sikap mental positif yang perlu kita tumbuh-kembangkan ialah bersekutu dengan penderitaan Kristus. Memikul salib kita sebagai pemimpin dan terus melayani Kristus. Jalan penderitaan inilah yang akan membawa kita untuk dimuliakan dan menjadi serupa dengan Kristus.

Blogger templates

Artikel Terbaru

 

Blogger news

google-site-verification: googlea9bbb7b8e027c698.html

Most Reading