Tuesday, August 14, 2012

Lima Cara Mengkomunikasikan Visi

Mengkomunikasikan visi tentu tidak semudah membalik telapak tangan. Oleh sebab itu, setiap pemimpin harus tahu cara yang tepat dalam mengkomunikasikan visi kepada orang yang dipimpinnya. Berikut lima cara yang bisa digunakan pemimpin untuk mengkomunikasikan visinya. 1. Lakukan dengan hati dan penuh respek Hal penting dalam mengkomunikasikan visi adalah membicarakan visi tersebut dari hati ke hati. Sebagai pemimpin, kita harus melihat secara utuh persoalan dan tantangan apa yang dihadapi ketika bergerak menuju arah visi organisasi yang dipimpin. 2. Manfaatkan saluran komunikasi yang informal dan terbuka Untuk mengkomunikasikan visi, kita memerlukan saluran komunikasi yang tepat. Hal yang menarik dalam konteks ini adalah temuan Tom Peters dan Robert Waterman dalam buku mereka yang terkenal In Search of Excellence. Berdasarkan pengamatan mereka ternyata komunikasi dalam organisasi lebih informal dan terbuka. Jadi, mengkomunikasikan visi jangan menggunakan saluran komunikasi formal, karena bisa memicu pro dan kontra. Pakailah komunikasi informal dan terbuka karena dari sinilah terbangun motivasi, kebersamaan, kejujuran dan kerjasama yang dibutuhkan dalam mewujudkan visi organisasi. 3. Perhatikan setiap umpan balik (feedback) Sebagai pemimpin, kita perlu memperhatikan tanggapan atau pun umpan balik berupa keluhan, keberatan, saran dan masukan dari seluruh anggota tim yang terlibat. Sering penyesuaian yang kita lakukan terhadap visi bersama berdasarkan masukan dari anggota tim akan memberikan dampak dan energi yang luar biasa karena seluruh anggota merasa dilibatkan dan dihargai pandangan dan pemikirannya. 4. Libatkan semua anggota tim Sebagai pemimpin, kita harus melibatkan semua komponen yang ada dalam organisasi. Hal ini sangat penting. Dikatakan demikian, karena apabila ada salah satu komponen saja dalam organisasi tidak dilibatkan, maka hal itu merupakan salah satu penghambat dalam upaya mewujudkan visi organisasi. 5. Perhatikan hal-hal yang tidak tampak Visi merupakan puncak gunung es dari organisasi yang kelihatan. Tetapi, perasaan, hasrat, kebutuhan, nilai-nilai hidup dan impian setiap anggota organisasi atau tim tersembunyi di bawah permukaan. Jika kita ingin mengkomunikasikan sasaran dan visi bersama kepada setiap anggota tim, kita juga sebagai pemimpin harus memahami hal-hal pribadi yang tidak tampak yang justru merupakan fondasi bagi terwujudnya hal-hal yang formal. Kita harus memiliki empati dan kepedulian yang besar terhadap setiap impian dan nilai-nilai yang dipegang oleh setiap anggota tim. Inilah yang mendasari motivasi internal yang jauh lebih efektif daripada sekadar motivasi yang didasarkan atas ketakutan (fear motivation) maupun motivasi karena imbalan (reward).

No comments:

Post a Comment

Loading