Landasan Teori Tentang Kepemimpinan

Dalam bagian bab dua ini, akan diuraikan hal-hal seputar pemahaman tentang melaksanakan upaya memimpin dengan manajemen performansi tinggi; pandangan para ahli seputar manajemen; dasar teologis berkaitan dengan melaksanakan upaya memimpin; lalu diakhiri dengan sebuah rangkuman.

A.          Pemahaman tentang Melaksanakan Upaya Memimpin dengan Manajemen Performansi Tinggi
Guna membantu memperjelas pemahaman tentang bagian ini, maka perlu dipaparkan hal-hal yang berkaitan dengan pengertian dari setiap kata yang terdapat pada topik makalah ini. Tujuannya ialah supaya setiap pembaca tidak kesulitan dalam memahami topik pembahasan makalah ini. Ada pun kata-kata penting yang ingin digali pengertiannya, yaitu:

1.      Pengertian kata upaya
Kata “upaya” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, diartikan sebagai: “ikhtiar (untuk mencapai suatu maksud, memecahkan persoalan, mencari jalan keluar, dsb); daya upaya”.[1]

2.     Pengertian kata memimpin
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti kata “memimpin” terdiri dari: “1) mengetuai atau mengepalai (rapat, perkumpulan, dsb); 2) memenangkan paling banyak; 3) memegang tangan seseorang sambil berjalan (untuk menuntun, menunjukkan jalan, dsb); 4) memandu; 5) melatih (mendidik, mengajari, dsb) supaya dapat mengerjakan sendiri”.[2] 



3.     Pengertian kata manajemen
Kata “manajemen” sebagaimana dicatat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki pengertian yaitu: “1) penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran; 2) pimpinan yang bertanggung jawab atas jalannya perusahaan dan organisasi; - atas kelompok manajer yang meliputi pejabat, pimpinan tertinggi beserta pembantunya yang terdekat dalam perusahaan atau organisasi; -- bahan kegiatan atau penelaahan yang mencakup perencanaan, pengorganisasian, dan pengendalian arus bahan ditiap tahap yang dilaluinya mulai dr penyuplai sampai ke tempat penyimpanan dibentuk barang jadi; informasi kegiatan mengumpulkan data yg diperlukan para manajer dan pengambilan keputusan secara tepat dan cepat untuk menghindari kemelesetan waktu, salah investasi, dan terlewatnya kesempatan”.[3]  

4.     Pengertian kata performansi
Kata “performansi” berasal dari bahasa Inggris “performance” dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia yaitu “kinerja”. Kata “kinerja” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai: “1) sesuatu yang dicapai; 2) prestasi yang diperlihatkan; 3) kemampuan kerja”.[4]

5.     Rangkuman
Berdasarkan pengertian kata-kata di atas menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, maka yang dimaksudkan dengan: “Melaksanakan Upaya Memimpin Dengan Manajemen Performansi Tinggi” adalah cara pemimpin mencari jalan keluar melalui suatu pelatihan yang melibatkan penggunaan sumber daya (manusia, dana, sarana dan prasarana) secara efketif untuk mencapai sasaran organisasi yang diperlihatkan melalui prestasi kerja yang optimal.

B.          Pandangan Para Ahli Seputar Manajemen Performansi
Guna meletakan suatu pemahaman yang baik dan benar berkaitan dengan manajemen performansi, maka diperlukan untuk mengumpulkan pendapat para ahli manajemen sebagai sebuah teori. Oleh sebab itu, di bawah ini akan disajikan dua hal yaitu, manajemen dan kinerja (preformansi).

1.      Manajemen
Manajemen adalah kosa kata yang berasal dari bahasa Perancis kuno, yaitu “menegement” yang berarti seni melaksanakan dan mengatur. Sejauh ini memang belum ada kata yang mapan dan diterima secara universal sehingga pengertiaanya untuk masing-masing para ahli masih memiliki banyak perbedaan.

Secara umum manajemen juga dipandang sebagai sebuah disiplin ilmu yang mengajarkan tentang proses untuk memperoleh tujuan organisasi melalui upaya bersama dengan sejumlah orang atau sumber milik organisasi. Dalam hal ini manajemen dibedakan menjadi tiga bentuk karakteristik, di antaranya adalah: pertama, sebuah proses dari aktivitas yang berkelanjutan dan berhubungan; kedua, melibatkan dan berkonsentrasi untuk mendapatkan tujuan organisasi; ketiga, mendapatkan hasil-hasil ini dengan berkerja sama melalui sejumlah orang dan memanfaatkan sumber-sumber yang dimiliki organisasi.

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, bahwa sejauh ini belum ada kata mapan dan diterima secara universal tentang pengertian dari manajemen, maka para ahli masih memiliki pandangan yang berbeda terkait dengan pengertian manajemen itu sendiri. Seperti apa pengertian manajemen menurut para ahli? 

Berikut pemaparannya. George R. Terry, mengatakan bahwa: “Manajemen adalah suatu proses atau kerangka kerja, yang melibatkan bimbingan atau pengarahan suatu kelompok orang-orang kearah tujuan-tujuan organisasional atau maksudmaksud yang nyata”. Sedangkan menurut Hilman,Manajemen adalah fungsi untuk mencapai sesuatu melalui kegiatan orang lain dan mengawasi usaha-usaha individu untuk mencapai tujuan yang sama”. 

Kemudian Ricky W. Griffin memberi pengertian tentang “Manajemen sebagai sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran (goals) secara efektif dan efesien. Efektif berarti bahwa tujuan dapat dicapai sesuai dengan perencanaan, sementara efisien berarti bahwa tugas yang ada dilaksanakan secara benar, terorganisir, dan sesuai dengan jadwal”. 

Lebih jauh lagi Drs. Oey Liang Lee menuturkan bahwa, Manajemen adalah seni dan ilmu perencanaan pengorganisasian, penyusunan, pengarahan dan pengawasan daripada sumberdaya manusia untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan”. Tidak ketinggalan juga William H. Newman memberikan gagasannya tentang Manajemen adalah fungsi yang berhubungan dengan memperoleh hasil tertentu melalui orang lain”.

Renville Siagian menuturkan bahwa, “Manajemen adalah suatu bidang usaha yang bergerak dalam bidang jasa pelayanan dan dikelola oleh para tenaga ahli terlatih serta berpengalaman”. 

Lalu Prof. Eiji Ogawa menjelaskan bahwa, “Manajemen adalah Perencanaan, Pengimplementasian dan Pengendalian kegiatan-kegiatan termasuk sistem pembuatan barang yang dilakukan oleh organisasi usaha dengan terlebih dahulu telah menetapkan sasaran-sasaran untuk kerja yang dapat disempurnakan sesuai dengan kondisi lingkungan yang berubah”. 

Kemudian Federick Winslow Taylor juga mengemukakan pendapatnya bahwa, “Manajemen adalah Suatu percobaan yang sungguh-sungguh untuk menghadapi setiap persoalan yang timbul dalam pimpinan perusahaan (dan organisasi lain)atau setiap system kerjasama manusia dengan sikap dan jiwa seorang sarjana dan dengan menggunakan alat-alat perumusan”. Selanjutnya Henry Fayol berpendapat bahwa, “Manajemen mengandung gagasan lima fungsi utama yaitu, merancang, mengorganisasi, memerintah, mengoordinasi, dan mengendalikan”.

Lyndak F. Urwick menegaskan bahwa, “Manajemen adalah Forecasting (meramalkan), Planning Orga-nizing (perencanaan Pengorganisiran), Commanding (memerintahklan), Coordinating (pengkoordinasian) dan Controlling (pengontrolan). Ditinjau dari segi fungsinya, manajemen memiliki empat fungsi dasar manajemen yang menggambarkan proses manajemen, semuanya terangkum sebagai berikut:
   
Pertama, Perencanaan. Perencanaan melibatkan urusan memilih tugas yang harus di lakukan untuk mempertahankan tujuan organisasi, menjelaskan bagaimana tugas harus dilaksanakan, dan memberi indikasi kapan harus dikerjakan. Aktivitas perencanaan memfokuskan pada mempertahankan tujuan. Para manajer menegaskan secara jelas apa yang organisasi harus lakukan agar berhasil. Perencanaan fokus terhadap kesuksesan dari organisasi dalam jangka waktu pendek dan juga jangka panjang.

Kedua, Pengorganisasian. Pengorganisasian yakni memberi tugas sebagai hasil dari tahapan perencanaan, tugas tersebut di berikan kepada beragam individu atau grup didalam organisasi. Mengorganisir adalah untuk menciptakan mekanisme untuk menjalankan rencana.

Ketiga, Pengaruh. Pengaruh merupakan sebuah motivasi, kepemimpinan atau arah. Pengaruh dapat di definisikan sebagai bimbingan dari aktivitas dari anggota organisasi dalam arah yang dapat membantu organisasi lebih terarah untuk mencapai hasil atau target.

Keempat, Pengendalian. Pengendalian merupakan sejumlah peranan yang dimainkan oleh para manajer:   Mengumpulkan informasi untuk mengukur performa.  Membandingkan performa masa kini dengan sebelumnya.   Menentukan aksi selanjutnya dari rencana dan melakukan modifikasi untuk menuai parameter performa diharapakan.[5]

2.     Kinerja (performance)
Kinerja adalah penentuan secara periodik efektivitas operasional organisasi, bagian organisasi dan karyawannya berdasarkan sasaran, standar dan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya (Srimindarti, 2006).  

Menurut Mangkunegara (2001), kinerja adalah: hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dapat dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugas sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Kinerja adalah penampilan hasil karya personel baik kuantitas maupun kualitas dalam suatu organisasi. Kinerja dapat merupakan penampilan individu maupun kerja kelompok personel. 

Penampilan hasil karya tidak terbatas kepada personel yang memangku jabatan fungsional maupun struktural, tetapi juga kepada keseluruhan jajaran personel di dalam organisasi (Ilyas, 2001). Deskripsi dari kinerja menyangkut tiga komponen penting, yaitu: tujuan, ukuran dan penilaian. Penentuan tujuan dari setiap unit organisasi merupakan strategi untuk meningkatkan kinerja. 

Tujuan ini akan memberi arah dan memengaruhi bagaimana seharusnya perilaku kerja yang diharapkan organisasi terhadap setiap personel. Walaupun demikian, penentuan tujuan saja tidaklah cukup, sebab itu dibutuhkan ukuran, apakah seseorang telah mencapai kinerja yang diharapkan. Untuk kuantitatif dan kualitatif standar kinerja untuk setiap tugas dan jabatan memegang peranan penting.

C.          Landasan Teologis tentang Melaksanakan Upaya Memimpin dengan Manajemen Performansi Tinggi
Melaksanakan upaya memimpin dengan manajemen performansi tinggi dalam perspektif teologis sangat penting. Dikatakan demikian, karena Allah dalam seluruh karya kepemimpinan-Nya atas dunia ini menerapkan sistem manajemen performansi tinggi. 

Dalam frame inilah, setiap pemimpin Kristen harus mengerti dan memahami bahwa Allah sendiri menuntut supaya sebagai pemimpin yang melayani umat-Nya harus menerapkan sistem manajemen secara benar dan Alkitabiah.

Pada bagian ini, akan disajikan bagaimana para pemimpin dalam Alkitab melaksanakan upaya memimpin dengan manajemen performansi tinggi. Baik pemimpin dalam Perjanjian Lama maupun pemimpin dalam Perjanjian Baru.

1.      Perjanjian Lama
Perjanjian Lama secara transparan memberikan referensi kepada pemimpin Kristen masa kini tentang pemimpin-pemimpin umat Allah yang menerapkan sistem manajemen performansi tinggi dalam melaksanakan kepemimpinannya. Dalam bagian ini, akan disajikan hanya dua tokoh penting sebagai model bagi kita untuk membantu kita menerapkan sistem manajemen dalam kepemimpinan. Kedua tokoh dimaksud ialah:

a.     Model Kepemimpinan Musa
Musa adalah salah seorang pemimpin besar dalam Perjanjian Lama. Sepak terjangnya dalam dunia kepemimpinan diperolehnya dari setiap pengalaman hidup yang menuntutnya untuk selalu belajar. 

Pengalaman hidup Musa menjadi alat Tuhan untuk membentuk dan menyatakan rencana-Nya kepada Musa, bahwa Ia bermaksud menjadikan Musa seorang pemimpin besar yang mengantarkan bangsa Israel keluar dari tanah perbudakan. Allah memilih Musa menjadi pemimpin bukan hanya karena kecakapannya; Allah juga bermaksud memperlengkapi Musa dengan semangat tidak mudah menyerah, syarat penting yang dibutuhkan oleh setiap pemimpin besar.

Sebagai pemimpin yang berkharisma, hukum kepemimpinan pertama yang dipakai oleh Musa adalah Hukum Impian. Hukum ini mengatakan bahwa orang-orang mengikuti pemimpin yang dapat memberikan mereka tujuan yang mereka inginkan. Musa memberikan impian tentang Tanah Perjanjian kepada pengikutnya -- tanah tempat mereka bisa hidup merdeka. 

Hukum kedua yang diberikan Musa adalah Hukum Motivasi. Hukum ini menyatakan bahwa pengikut akan mengikuti pemimpin yang memberi mereka alasan-alasan untuk mencapai tujuan itu. Jika Musa memberikan mereka alasan yang meyakinkan, mereka akan mengikuti kepemimpinannya. Musa menawarkan motivasi kemerdekaan untuk mengikutinya (Towns, Elmer, 2007).

Sebagai pemimpin administratif, hukum kepemimpinan pertama yang dipakai oleh Musa adalah Hukum Penghargaan. Menurut hukum ini, seorang pemimpin akan mendapatkan pengikut jika ia menyiapkan penghargaan kepada pengikutnya sesuai tujuan mereka masing-masing. 

Untuk mendapatkan pengikut, seorang pemimpin harus memberikan penghargaan kepada mereka. Hukum kepemimpinan berikutnya adalah Hukum Akuntabilitas (Kepercayaan). Melalui hukum ini, Musa memberikan tanggung jawab kepada pengikutnya. Ia memberi Harun tugas-tugas imamat dan menunjuk penatua-penatua untuk bertanggung jawab mengurus peradilan. Dengan demikian, Musa mengizinkan pengikutnya untuk berkontribusi dalam usaha mencapai Tanah Perjanjian (Towns, Elmer, 2007).

Musa memunyai banyak kekuatan karena corak kepemimpinannya yang kharismatis dan administratif. Pertama, ia mampu menyampaikan visinya meninggalkan Mesir menuju Tanah Perjanjian. Inilah ciri kepemimpinan yang kharismatis. Para pemimpin memberi visi yang dapat direngkuh pengikutnya (Towns, Elm, 2007). 

Maxwell menyebut hal ini sebagai Hukum Gambaran. Seperti kata Maxwell, pengikut akan melakukan sebisa yang mereka impikan. Pemimpin dengan kemampuan ini bukan hanya bisa mengomunikasikan visi mereka, tetapi ia juga dapat menjadi teladan yang menghidupkan gambaran visi itu. 

Musa dapat menuangkan visinya untuk pengikutnya karena ia bukan hanya mampu mengomunikasikannya, tetapi ia juga mampu menjadikan dirinya teladan; ini ditunjukkan dengan keberaniannya di hadapan Firaun (Maxwell, John, 1998/2007).

Pertemuan Musa dengan Allah membuat dia tanggap terhadap kehendak Allah dalam hidupnya. Musa mengetahui bahwa membawa umat Israel keluar dari Mesir bukanlah sebuah pekerjaan, melainkan sebuah panggilan dalam hidupnya. Billy Graham menyatakannya sebagai berikut, "Ketika kita mematikan diri sendiri, kita melihat awal pekerjaan Allah" (Shelly, Marshall & Myra, Harold, 2005).

Musa mematikan dirinya saat melihat semak belukar yang menyala-nyala dan itulah awal pekerjaan Allah. Waktu yang dihabiskannya bersama dengan Tuhan membawanya pada pemahaman akan Allah. Menurut Keluaran 33:18, keakraban ini membimbing dia untuk berseru di atas gunung, “Perlihatkanlah kiranya kemuliaan-Mu kepadaku”. 

Hubungan inilah yang meyakinkannya bahwa walaupun dia menghadapi perlawanan besar dari Firaun, Allah akan memberikan kemenangan ketika ia mengikuti panggilan Allah di dalam hidupnya. Walaupun umat Israel meragukan Musa, Dia mengetahui bahwa Allah akan menguatkannya dengan kemampuan, talenta, dan kecakapan yang penting untuk memenuhi panggilannya (Towns, Elmer, 2007).

Akhirnya, Musa bertahan dan Firaun melemah serta melunak. Untuk mengenang kemenangan ini, Musa menetapkan satu peringatan. Sejak saat itu, ia menghantarkan kemenangan demi kemenangan (Towns, Elm, 2007).

Maxwell menyebut hal ini Hukum Kemenangan. Secara sederhana, Maxwell menyatakan bahwa seorang pemimpin mencari kemenangan untuk kelompoknya. Contoh lain yang nyata dari hukum ini adalah Winston Churchill, Perdana Menteri Britania saat Perang Dunia II, bahwa ia seorang yang tidak bersedia dikalahkan. 

Kekalahan merupakan sesuatu yang asing bagi pemikiran dan kepemimpinannya, ketika negerinya sedang menghadapi masa kegelapan melawan Fasisme. Churchil tidak bersedia menerima apa pun kecuali kemenangan telak (Maxwell, John, 2007).

Karena Musa seorang pemimpin administratif, dia menunjukkan kekuatan itu pada saat dia mengembalikan reputasinya dengan menurunkan tulah ke Mesir. Musa menguatkan reputasi dan kredibilitasnya sebagai pemimpin melalui perayaan untuk memperingati kemenangan-kemenangan mereka dan menghitung kemenangan itu melalui cerita-cerita. 

Karena nasihat bapak mertuanya, Yitro, Musa mendelegasikan kewenangan sebagai hakim kepada orang-orang terpilih sehingga ia dapat lebih bebas melaksanakan tugas-tugas kepemimpinan yang lebih penting (Towns, Elm, 2007).

Kesimpulan untuk studi kepemimpinan Musa ialah jawaban atas kosongnya kepemimpinan yang melanda gereja dan dunia sekuler pada saat ini dapat ditemukan melalui studi kepemimpinan Musa di dalam Alkitab, sebagai seorang tokoh pemimpin yang benar-benar memimpin. Musa seorang pemimpin yang dipakai oleh Tuhan dalam segala aspek hidupnya -- ia disiapkan menjadi pemimpin besar yang mengeluarkan umat Israel dari Mesir. 

Musa merupakan model kepemimpinan yang berharga karena dia memunyai corak kepemimpinan kharismatis, administratif, dan penyelesai konflik. Studi yang menyeluruh tentang temperamen Musa, hukum kepemimpinannya, kesempatan-kesempatan, dan ancaman-ancaman yang dihadapinya, akan berguna untuk semua pemimpin.

b.     Model Kepemimpinan Nehemia.
Nehemia adalah salah seorang pemimpin yang inspirasional di dalam Alkitab. Kadang metode-metodenya tampak tidak masuk akal, namun Tuhan menggunakan metode-metode itu untuk menghasilkan reformasi kehidupan bangsa Israel dalam waktu yang singkat. Analisis terhadap kepribadian dan metode-metodenya mengungkapkan bahwa efektivitas metode-metode itu bergantung pada kualitas karakter Nehemia sendiri.

Nehemia adalah seorang yang berpandangan jauh ke depan. Ia mengetahui bahwa pasti akan bangkit perlawanan, jadi ia meminta sang raja memberikan mandat tertulis agar perjalanannya aman dan ia mendapat dukungan untuk menyelesaikan mandat tersebut, "... memasang balok-balok pada pintu-pintu gerbang di benteng bait suci, untuk tembok kota ..." (2:8) Ia merencanakan strateginya dengan cermat. Tuhan memakai seorang biasa yang awam, yang memiliki tujuan dan visi yang tidak biasa [6]. Nehemia mengungkapkan visinya dengan istilah yang sesederhana mungkin. Sasaran bangsa itu adalah pembangunan kembali tembok Yerusalem[7].

Setiap calon pemimpin harus memunyai visi. Tanpa visi, ia tidak mungkin bisa mencapai tujuan. Visi yang jelas akan memungkinkan seorang pemimpin percaya dan yakin. Visi berkaitan dengan penciptaan sesuatu yang baru, tidak mengabaikan yang lampau, tetapi membangun di atas fondasi sebelumnya dan yang akan muncul sebagai realitas yang lebih baik dibanding realitas sekarang. 

Bila diwujudkan secara penuh, visi itu akan membawa kita lebih dekat pada cita-cita kita[8]. Visi memerlukan tindakan nyata. Pemimpin yang luar biasa bangun pada pagi hari dengan sebuah rencana dan mengerjakannya. Mereka tidak selalu meminta izin sebelum bergerak. Kepemimpinan adalah memproduksi hasil[9]

Visi kepemimpinan adalah kemampuan pemimpin untuk melihat dan memahami keinginan suci yang ditulis oleh Allah di dalam batinnya bagi organisasi serta kepemimpinannya. Di dalam visi itu, terdapat kehendak Allah yang khusus bagi kepemimpinan seorang pemimpin[10].
Nehemia memiliki sasaran kepemimpinan.

Sasaran Nehemia adalah pembangunan kembali tembok Yerusalem yang telah runtuh dan terbakar (1:3; 2:17). Nehemia mengajak penduduk dan mereka mendukungnya. Mengapa pemimpin perlu memunyai sasaran? Paling sedikit terdapat tiga alasan, antara lain[11]: 1). Pengarahan. 

Pemimpin memerlukan sasaran untuk mengarahkan kehidupannya. Tidak mungkin seseorang terus melangkah maju menuju tujuan jika ia tidak memunyai tujuan tertentu. 2). Kemajuan. Sasaran itu penting untuk memastikan bahwa akan ada suatu kemajuan. 

Jika gereja tidak memiliki suatu sasaran utama, yang dijadikan tujuan dan diperjuangkan oleh seluruh orang percaya di dalam jemaat itu, gereja mungkin seolah-olah tampak sibuk dengan program itu, tetapi sebenarnya tidak mengalami kemajuan apa pun. 

3). Hasil yang dicapai. Pelaksanakan sasaran itu sampai selesai penting untuk memberikan suatu hasil. Jika tidak ada sasaran tertentu, tidak akan pernah diketahui keberhasilan atau ketidakberhasilan pelaksanaan program itu. Setelah penentuan sasaran, dilanjutkan dengan pelaksanaan. 

Jika tidak ada pelaksanaan, sasaran itu hanya sekadar satu ide mistik saja. Kekristenan bukan sebuah filsafat yang sebatas ide saja, melainkan suatu cara hidup yang harus diterapkan dan dilaksanakan[12].

Nehemia juga memiliki beberapa karakter lain yang masih relevan untuk diterapkan pada masa kini. 1). Pembuat Keputusan yang Jelas. Nehemia dapat membuat keputusan-keputusan yang jelas. Ia tidak menghindari kata-kata keras, melainkan berbicara langsung mengenai inti permasalahan dan membuat penilaian. 

Dan keputusan-keputusannya tidak berat sebelah; ia tidak memandang bulu. Ketika kecaman dibutuhkan, ia memberikannya kepada para pejabat dan eksekutif sebagaimana kepada para pekerja (Nehemia 5:7). Kadang-kadang perlawanan mengembangkan kerendahan hati untuk melindungi kita dari kebanggaan yang sia-sia[13].

Pada umumnya orang tidak menyukai masalah, cepat bosan kepada masalah, dan akan melakukan hampir apa saja untuk melepaskan diri dari masalah. Keadaan membuat orang lain meletakkan kendali kepemimpinan di tangan seseorang -­ kalau dia bersedia dan mampu menangani masalah mereka atau melatih mereka untuk memecahkan masalah. Keahlian memecahkan masalah seorang pemimpin harus dipertajam karena setiap keputusan menjadi keputusan besar[14]

Raja Salomo merupakan satu contoh pemimpin yang memiliki fungsi kreativitas dalam memecahkan masalah, saat dia mengancam untuk membelah dua bayi.
Dalam kepemimpinan gereja, pelatihan inovasi sangat diperlukan. Inovasi sebagai proses penciptaan dan pembaruan nilai sampai dapat dimanfaatkan atau dikonsumsi oleh masyarakat, sebagaimana Yesus berkata, "hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati" (Matius 10:16b), artinya selalu kreatif-inovatif tetapi tetap menjaga ketulusan dan integritas[15].

Kebimbangan dalam mengambil keputusan telah mengganggu efektivitas banyak pemimpin. Pembuat keputusan yang tidak efektif pada dasarnya mengandung dua masalah: keragu-raguan untuk membuat keputusan dan membuat keputusan yang tidak tepat. Satu keputusan yang salah dapat membawa pemimpin ke jalan buntu atau ke jalan yang menuju kehancuran. Sebagai seorang pemimpin, soal mengambil keputusan itu merupakan seni yang harus dikuasai[16]

Kennet O. Gangel membagi permasalahan mengapa pemimpin ragu dalam membuat keputusan ke dalam empat bagian[17], yaitu: 1). Kurangnya tujuan yang jelas. Kadang-kadang para pemimpin tidak bertindak karena mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan. 2). Ketidakmantapan dalam kedudukan atau otoritasnya. 

Kadang-kadang pemimpin takut bertindak karena takut akan akibatnya. 3). Kurangnya informasi. Pemimpin yang tidak secara aktif mencari semua informasi yang dapat ia peroleh sebelum memberikan keputusannya berarti melumpuhkan dirinya sendiri dalam proses pembuat keputusan. 4). Ketakutan akan perubahan. Banyak pemimpin ingin mempertahankan "status quo". Karena sebagian besar keputusan menghasilkan semacam perubahan, keputusan selalu tampak sebagai ancaman terhadap operasi-operasi yang sedang berlaku.

2). Pemimpin yang Bertanggung Jawab. Di dalam usaha apa pun, pemimpinlah yang bertanggung jawab atas keberhasilan atau kegagalan misinya. Ada beberapa faktor yang memengaruhi motivasi dan semangat juang, dan salah safu faktor kuncinya adalah tanggung jawab[18]. Nehemia menerima tanggung jawab dengan maksud terus mengerjakan pembangunan tembok Yerusalem. Nehemia sudah siap untuk hal yang terburuk[19].

Yesus mendefinisikan kepemimpinan sebagai pelayanan, dan itu berlaku baik dalam organisasi sekuler ataupun gereja. Gaya kepemimpinan Yesus adalah menjadi seorang hamba, meski Dia sungguh memiliki semua kuasa dan otoritas surgawi[20]. Ia menunjukkan simpati pada masalah orang lain, namun simpatinya menguatkan dan membangkitkan semangat; tidak melunakkan dan melemahkan. 

Disiplin adalah tanggung jawab lain dari pemimpin, tugas yang sering kali tidak disambut dengan baik. J. Oswald Sanders mengatakan: "Masyarakat Kristen apa pun membutuhkan disiplin yang benar dan penuh kasih untuk mempertahankan standar-standar ilahi dalam doktrin, moral, dan perbuatan"[21].

Sering kali pemimpin tergoda untuk melemparkan tanggung jawab kepada orang lain, untuk melepaskan diri dari tanggung jawab atas sesuatu yang buruk dan tidak menyenangkan[22]. Seorang pemimpin memiliki banyak elemen dalam hal tanggung jawab. Pertama, pemimpin sejati terutama peduli pada kesejahteraan orang lain, bukan kenyamanan atau kedudukannya sendiri. 

Pemimpin rohani selalu mengarahkan keyakinan orang lain kepada Tuhan. Ia melihat dalam setiap keadaan untuk menolong. Kedua, disiplin adalah tanggung jawab dari pemimpin, tugas yang sering kali tidak disambut dengan baik. Paulus menjelaskan roh yang harus dimiliki para pemimpin yang memberikan disiplin. 

"Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman" (Galatia 6:10). Ketiga, para pemimpin harus memberikan bimbingan. 

Pemimpin rohani harus tahu ke mana ia akan pergi sebelum memimpin orang lain. Pemimpin harus berjalan di depan kawannnya. Bersedia mengambil tanggung jawab merupakan tanda seorang pemimpin. Yosua adalah orang seperti itu. Ia tidak ragu-ragu mengikuti salah seorang pemimpin terbesar seperti Musa[23].

Salomo menyebutkan lima hal yang merupakan tanggung jawab seorang pemimpin. 1). Menegur atau mengoreksi. Ada kalanya seorang pemimpin melihat serangkaian tindakan yang salah tetapi tidak bersedia menegurnya karena takut tidak akan disukai orang. Salomo berkata, "Siapa menegur orang akan kemudian lebih disayangi dari pada orang yang menjilat." (Amsal 28:23). 

Yesus memperingatkan murid-murid-Nya tentang berbagai bahaya yang ada di depan. Dia khususnya memperingatkan Petrus bahwa dia akan mengkhianati dan mengecewakan-Nya, dan Petrus memang melakukan itu.

Apa yang mengubah Petrus kembali? Yesus yang mengubahnya. Meskipun Petrus menyangkal Yesus tiga kali, tiga kali pula Petrus diberi kesempatan untuk menegaskan kembali kasih dan komitmennya untuk memelihara domba-domba Yesus. 

Petrus belajar sesuatu tentang kemarahan dari Yesus; kemarahan Yesus itu bisa menjadi hal yang paling disukai di dunia. Dalam mengembangkan para pemimpin, perlu mengetahui bahwa mereka akan gagal. Ketika itu terjadi, mereka perlu dikoreksi, dorongan semangat dan kesempatan untuk mulai lagi[24]. 2). 

Bertindak dengan tegas. Salomo mengatakan bahwa apabila seseorang membiarkan tingkah laku yang tidak benar dengan mengatakan ia tidak mengetahuinya, ia masih harus bertanggung jawab di hadapan Allah yang menguji hati, dan membalas manusia menurut perbuatan-Nya (Amsal 24:11-12). Pemimpin perlu mendorong orang untuk lebih baik, atau bila perlu memecat yang tidak produktif[25].

Dalam kepemimpinan Nehemia, dia terus menggalakkan kerja sama di antara bangsa itu. Ia menghentikan praktik lintah darat dan ia menciptakan persatuan di antara penguasa yang kaya dengan orang-orang yang merasa tertindas. Ia juga mempersatukan orang-orangnya dan memberi mereka makan dari uangnya sendiri. Tanpa kerja sama, tembok Yerusalem itu takkan berhasil dibangun kembali[26]

3). Mendengarkan kritik. Pemimpin bertanggung jawab untuk mendengarkan kritik dari rekan-rekannya. "... siapa mengindahkan teguran adalah bijak." (Amsal 15:5) Menangani pengkritik, pengeluh, dan bahkan sering kali si mulut besar adalah pelayanan rutin. Tetapi tidak semua kecaman keras merupakan kritik rutin. 

Ada batas yang halus antara mudah tersinggung dan keras kepala. Untuk menjadi seorang pemimpin, terutama pemimpin rohani yang berhasil, seseorang harus memiliki pikiran seorang sarjana, hati seorang anak, dan kulit seekor badak[27]. 4). Bersikaplah jujur. Pemimpin bertanggung jawab untuk menjaga agar setiap hal terbuka dan jujur. "Orang bebal dibinasakan oleh mulutnya, bibirnya adalah jerat bagi nyawanya." (Amsal 18:7

Keterbukaan berarti tidak mengandalkan kekuatan dan pengertian sendiri. Pemimpin yang tidak mau diajar hampir selalu putus hubungan dengan Allah serta orang-orangnya[28]. 5). Bersikaplah adil. Pemimpin bertanggung jawab untuk bertindak adil terhadap bawahannya. "Neraca serong adalah kekejian bagi Tuhan, tetapi Ia berkenan akan batu timbangan yang tepat." (Amsal 11:1

Keprihatinan adalah hasrat untuk melakukan sesuatu yang menguntungkan bagi orang lain. Kalau hati terusik untuk melayani, kecil kemungkinannya bersikap untuk mementingkan diri sendiri[29].

3). Administrator yang Baik. Administrasi adalah pengaturan orang-orang dalam perkumpulan untuk meraih tujuan bersama. Salah satu unsur penting dalam administrasi adalah kesanggupan untuk bergaul dengan orang secara benar-benar ramah, sopan, tetapi mantap[30].

Nehemia adalah seorang pemimpin yang tidak melakukan pekerjaan dengan serampangan. Nehemia mengorganisasikan orang-orangnya menurut keluarga dan menurut prioritas yang telah direncanakannya, mulai dari gerbang kota tersebut. Tembok Yerusalem berhasil dibangun kembali karena kemampuan Nehemia untuk bekerja sama dengan orang lain dan memimpin mereka ke mana mereka harus menuju. Dia berupaya melibatkan sebanyak mungkin orang dalam prosesnya dan bergerak maju dengan mereka yang sudah siap. Dia organisasikan mereka dalam kelompok-kelompok alami berdasarkan hubungan[31].

Persatuan mendorong pengaruh yang kuat. Persatuan penting bagi suatu tim agar menjadi terfokus pada tujuan. Hati, kemauan, dan kekuatan anggota tim harus dipersatukan dengan tujuan dan arah yang sama[32]. Mendengarkan masukan atau dorongan dari bawahan merupakan suatu karakter kepemimpinan yang demokratis. Kepemimpinan jenis ini lebih bertahan lama daripada pemimpin yang menggunakan otoritas tanpa mau bekerja sama dengan orang lain terutama untuk membuat suatu keputusan.

2.     Perjanjian Baru
Allah dan firman-Nya tetap sama dari generasi yang satu ke generasi yang berikutnya. Allah memilih, memanggil dan menetapkan seseorang menjadi pemimpin untuk memimpin umat-Nya dalam setiap generasi. Pola ini tetap relevan, baik pada zaman Perjanjian Lama maupun di masa Perjanjian Baru.

Perjanjian Baru menyajikan pemimpin-pemimpin dengan kompetensi, kapasitas dan kapabilitas yang tangguh. Pemimpin-pemimpin tersebut telah terbukti berkualitas dengan membuktikan diri sebagi pemimpin dengan kualitas kinerja tinggi. Dalam upaya meneliti kesaksian Perjanjian Baru tentang pemimpin berkinerja dengan kualitas tinggi, maka akan disajikan dua tokoh sentral yang telah mempengaruhi sejarah kepemimpinan dunia. Kedua tokoh sentral dimaksud ialah Tuhan Yesus dan Rasul Paulus.

a.     Model Kepemimpinan Yesus.
Tuhan Yesus adalah Pemimpin Maha Agung dalam sepanjang sejarah kepemimpinan di dunia ini. Tidak ada pemimpin yang dapat menyamai kepemimpinan Tuhan Yesus. Ia satu-satunya pemimpin sejati - ideal - sempurna, sehingga Ia sangat pantas dan layak untuk diteladani oleh setiap pemimpin pada umumnya dan secara khusus pemimpin Kristen. Kepemimpinan Kristen adalah kepemimpinan yang Kristosentris - fokus, pusat dan inti pada Kristus.

Keempat Injil yang mengetengahkan tokoh Yesus - sebagai Pemimpin sempurna, "dengan karakter yang tangguh, pengetahuan yang komprehensif dan khas lebih, serta kecakapan sosial dan teknis yang sangat andal dalam kepemimpinan-Nya (Banding: Lukas 4:32; Matius 7:28, 29; Markus 1:22 - yang berisi pengakuan atas keandalan TUHAN Yesus sebagai pemimpin)."[33] Keandalan dan ketangguhan Tuhan Yesus dalam seluruh mekanisme kepemimpinan-Nya yang berlangsung tiga setengah tahun dapat ditemukan dalam beberapa indikator. Indikator-indikator dimaksud yaitu:

Memanggil dan memilih calon pemimpin, kemudian disatukan dalam suatu kelompok kecil (dua belas orang). Di sini proses seleksi pemimpin berlangsung. Mempersiapkan calon pemimpin dengan melatih dan mengembangkan potensi dan talenta yang dimiliki secara maksimal. Di sini proses pembentukan karakter, motivasi, kapasitas dan kapabilitas dilaksanakan.

Guna mengoptimalkan kinerja, Yesus melibatkan calon pemimpin dengan mengutus atau menerjunkan secara langsung ke dalam pelayanan, agar menemukan dan mendapatkan pengalaman kerja nyata yang akan melengkapi pemimpin supaya dapat memimpin dengan efektif. Keunggulan kinerja kepemimpinan Tuhan Yesus dibuktikan dengan tersedianya pemimpin-pemimpin andal, dengan kompetensi karakter unggul dan memiliki kapasitas serta kapabilitas yang membawa transformasi bagi kepemimpinan Kristen, masa kini dan di masa depan.

Semua indikator di atas, membuktikan bahwa Yesus dalam upaya memaksimalkan kinerja kepemimpinan yang berkualitas, Yesus mengelola sumber daya manusia sebagai aset yang sangat penting bagi kelangsungan dan suksesi sebuah kepemimpinan dalam suatu organisasi/institusi/ gereja. Itu sebabnya muncul pemimpin-pemimpin baru, yang memimpin dengan nilai kepemimpinan yang unggul dalam meneruskan kepemimpinan-Nya. Yesus merupakan pemimpin profesional, manajer personalia yang handal dengan kualitas kinerja tinggi.

Dengan   demikian,   dapat   dikatakan   bahwa   Yesus   adalah  pemimpin sempurna dan unggul dalam semua aspek kepemimpinan-Nya. Kesempurnaan dan keunggulan-Nya terlihat dalam pelaksanaan tugas yang dimanajemeni dari awal ke akhir dengan berhasil. Yesus mengembangkan dan memberdayakan potensi sumber daya manusia yang unggul yang cakap meneruskan kepemimpinan-Nya dengan berhasil. Jadi Yesus merupakan pemimpin yang menanda-buktikan diri-Nya sebagai efektif, efisien dan produktif dengan kualitas kinerja yang layak dan pantas untuk diteladani oleh setiap dan semua pemimpin Kristen dalam kepemimpinannya.

b.     Model Kepemimpinan Paulus.
Tidak banyak buku yang memuat tentang biografi kehidupan Rasul Paulus, kecuali kitab Kisah Para Rasul dan tulisannya sendiri dalam surat-suratnya. Tidak salah jika Paulus dinobatkan sebagai tokoh terbesar Perjanjian Baru karena hampir separuh Perjanjian Baru merupakan karyanya. Selain sebagai tokoh besar yang luar biasa ternyata Paulus memiliki kemampuan kepemimpinan yang hebat. Pola kepemimpinan idealnya terwujud dari setiap sikap dan tindakan yang berfokus pada orientasi pencapaian yang luar biasa.

Rasul Paulus memberikan banyak perhatian untuk membantu mengerti bahwa kepemimpinan yang sejati tidak berkenaan dengan kedudukan, kekuasaan, ketenaran, melainkan ketaatan status sebagai pelayan yang menghasilkan perubahan.

Ada tiga hal yang membuat kepemimpinan Paulus hebat. 1). Dia memunyai pencapaian-pencapaiannya yang hebat sebagai seorang pemimpin. 2). Dia meraih sesuatu dengan mengelola sumber daya dengan bijaksana. 3). Dia memelihara nilai-nilai dari para pengikut yang dia pimpin. Barangkali tidak ada tokoh dalam sejarah yang memberikan teladan kepemimpinan yang lebih hebat daripada Rasul Paulus. Kekuatan kepemimpinan rasul Paulus sungguh tidak ada bandingannya.

Paulus biasanya disebut-sebut sebagai arsitek utama kekristenan. Pengaruhnya terhadap peradaban Barat tidak dapat disangkal lagi. Jelas sekali, Paulus tidak akan pernah dapat membayangkan betapa besarnya pencapaian-pencapaiannya. Barangkali dia akan terkejut mengetahui bahwa dia telah memberikan model sempurna tentang kepemimpinan modern kepada para pemimpin abad ke-21. 

Pada hakikatnya, kepemimpinan Paulus benar-benar luar biasa – mungkin kepemimpinan terhebat yang pernah ada. Ada tiga kriteria untuk mengukur kepemimpinan: 1). Pencapaian. Kualitas kepemimpinan dilihat dari pencapaian hal-hal yang hebat. 2). Penggunaan sumber daya secara efektif. Kepemimpinan yang hebat menggunakan sumber daya dengan sangat efektif. 3). 

Pemeliharaan nilai-nilai kelompok. Nilai-nilai merupakan hal yang penting dalam sebuah kelompok (contohnya, etika, moral, uang). Kepemimpinan yang berkualitas melindungi nilai-nilai kelompok yang dipimpin. Kepemimpinan merupakan suatu topik yang luas, dan memang sudah seharusnya demikian, karena kebanyakan pemimpin kita telah membuat kekacauan yang luar biasa: ekonomi, lingkungan, peperangan, perawatan kesehatan, pemerintahan yang stagnan, dll.

Jika kita rindu keluar dari kekacauan yang dibuat oleh pemimpin-pemimpin yang buruk, maka planet ini sangat membutuhkan kepemimpinan yang hebat untuk memperbaiki banyak kegagalan dari pemimpin-pemimpin terdahulu. Akan tetapi, hal ini tidak bisa terwujud kecuali kita mengubah pandangan kita yang kadaluarsa tentang kepemimpinan.
Sepanjang sejarah, kita mencari dan mengagumi pemimpin-pemimpin dengan kepribadian, penampilan, dan keahlian-keahlian sosial tertentu yang dapat menginspirasi kita. Sering kali kita mencari sesosok "pangeran penunggang kuda" seperti dalam cerita-cerita untuk memimpin kita. Hal ini memang manusiawi dan sudah menjadi bagian dari sifat alamiah kita. Akan tetapi, kita tidak dapat mengukur dengan efektif pemimpin-pemimpin kita hanya berdasarkan kepribadian, penampilan luar, dan keahlian-keahlian sosial mereka.

Ukuran seperti itu memunyai pengaruh yang sangat buruk bagi kinerja kelompok karena kriteria tersebut sering kali tidak berhubungan dengan kinerja pemimpin. Saat ini, ada banyak seminar, diskusi, serta sesi-sesi pelatihan kepemimpinan. Semua kegiatan ini memunyai satu persamaan: para pesertanya tidak memiliki pemahaman kepemimpinan yang jelas, benar dan diamini oleh semuanya tentang kepemimpinan. 

Inilah saatnya bagi kita untuk mengenali dan mengambil pandangan modern tentang kepemimpinan: definisi kepemimpinan dan hal-hal apa yang membuat seorang pemimpin menjadi hebat. Dan teladan kepemimpinan modern terhebat kita adalah Paulus dari Tarsus.

Penjelasan Kepemimpinan Paulus
1.      Pencapaian.
Paulus melihat bahwa misinya adalah untuk mengabarkan bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah yang telah bangkit dari mati, dan mendirikan gereja-gereja berdasarkan doktrin ini. Para sejarawan sepakat bahwa ketika dia memulai pelayanannya pada sekitar pertengahan abad pertama, kekristenan adalah agama yang masih bayi dengan sedikit pengikut saja. 

Saat ini lebih dari 2 milyar orang adalah orang Kristen; ini berarti kurang lebih satu dari tiga orang adalah orang Kristen. Tentu saja ada banyak faktor yang menyebabkan kekristenan berkembang, tetapi kepemimpinan Pauluslah yang meletakkan dasar pertumbuhan kekristenan.

2.     Penggunaan Sumber Daya Secara Efektif.
Paulus hampir tidak memunyai sumber daya apa-apa. Dia bahkan sering kali bergantung pada kebaikan orang lain untuk mendapatkan tempat tinggal dan makanan. Hal ini tidak berarti bahwa asisten-asistennya -- Barnabas, Silas, Timotius, dll. – bukan merupakan sumber daya yang berharga. 

Akan tetapi, dibandingkan dengan pencapaiannya yang hebat, sumber daya yang dimiliki Paulus relatif sangat sedikit. Pencapaiannya yang luar biasa dengan sumber daya yang sedikit menunjukkan kekuatan dari kepemimpinannya. Paulus membuat malu para pemimpin yang mengelola banyak sumber daya, tetapi hanya mampu mencapai perkembangan yang biasa-biasa saja.

3.     Perlindungan Nilai-Nilai Kelompok.
Setelah penglihatan yang ia terima dalam perjalanannya ke Damaskus, Paulus menjadi seorang pendamai. Dalam hal ini, dia mencerminkan nilai-nilai ajaran Yesus dan ajaran Kristen. Paulus didera, dirajam, dan dipenjarakan, tetapi dia tetap setia dengan ajaran kekristenan mengenai damai. 

Dia berhasil menyebarkan firman kekristenan tanpa melakukak kompromi terhadap nilai-nilainya. Bandingkanlah hal ini dengan Paus Urbanus II, orang yang bertanggung jawab atas Perang Salib pertama. "Tumpukan kepala, tangan dan kaki dapat ditemukan di jalanan-jalanan kota" merupakan catatan zaman itu tentang orang-orang Kristen yang mengambil alih Yerusalem pada tahun 1099.

Barangkali, Anda dapat mendebatnya dari perspektif Kristen: merebut kota Yerusalem dan membuka jalan bagi peziarah Kristen ke kota tersebut merupakan pencapaian yang besar. Walaupun demikian, karena cara untuk mencapai hal ini sangat melanggar nilai-nilai yang kita percayai, peristiwa ini dipandang sebagai noda dalam kekristenan; sesuatu yang hingga saat ini masih perlu dibersihkan. 

Tidak seperti Urbanus, Paulus melindungi pengikut-pengikutnya dari tindakan aib yang meninggalkan perasaan malu yang dalam dan permanen itu. Kepemimpinan yang hebat memerlukan keahlian untuk mencapai hal-hal hebat tanpa menyia-nyiakan sumber daya yang ada dan selalu melindungi nilai-nilai orang yang dipimpinnya. 

Tentu saja Paulus tidak diperlengkapi untuk kepemimpinan abad ke-21, tetapi jika kita lihat, ada terlalu banyak pemimpin-pemimpin bisnis dan pegawai-pegawai pemerintahan yang bahkan lebih tidak diperlengkapi dalam posisi kepemimpinan mereka saat ini. Entah dalam bisnis, pemerintahan, maupun militer, jika kita ingin membayangkan bagaimana kepemimpinan yang hebat itu, mari kita melihat kembali pada dua milenia lalu dan belajar dari Paulus. 

Dia memahami dan menerapkan kepemimpinan yang nyata, dan menjadi teladan yang ideal saat ini. Alamat URL: http://www.thevoicemagazine.com/leadership-/leadership/the-apostle-paul-a-truly-great-modern-leader.html.

Rangkuman
Peningkatan kinerja kepemimpinan Kristen adalah upaya untuk meningkatkan efektifitas, efisiensi dan produktifitas atau prestasi kerja seseorang pemimpin Kristen dalam sebuah organisasi yang dipimpinnya. Keberhasilan kerja dari seseorang akan terbukti apabila ditopang oleh keinginan kuat dan komitmen tinggi dari pemimpin untuk mempersembahkan yang terbaik bagi Allah sebagai Pemimpin Maha Agung, yang kepada-Nya semua pemimpin Kristen akan mempertanggung jawabkan pelaksanaan tugas kepemimpinannya selama di bumi. Dikatakan demikian, karena Allah pasti akan mengevaluasi dan menilai serta memberikan penghargaan kepada pemimpin Kristen atas prestasi kerja kepemimpinannya (Matius 25:14-30; I Korintus 3:10-15; 9:24-27; Wahyu 14:12-14).  

Kepemimpinan adalah suatu proses yang kompleks dan dinamis, dimana seseorang mempengaruhi dan memimpin serta mengarahkan bawahan atau pengikut dalam   suatu   institusi/organisasi   untuk   mencapai   tujuan   organisasi   yang  telah ditetapkan bersama. Kepemimpinan secara umum adalah seni bekerja melalui orang lain dan bekerja bersama guna mencapai visi, misi dan tujuan organisasi. Kepemimpinan adalah kemampuan untuk mensinergiskan gagasan, sumber daya manusia dan material, waktu serta kepercayaan atau iman untuk mencapai tujuan organisasi.

Kepemimpinan Kristen adalah suatu proses terencana yang dinamis. Pemrosesan ini, menyentuh dimensi waktu, tempat, kondisi khusus, latar belakang keluarga dan lingkungan sosial.  Di dalam proses tersebut, Allah yang berinisiatif aktif memilih, memanggil dan menetapkan seseorang pemimpin untuk memimpin umat-Nya. 

Guna memimpin umat-Nya dengan berhasil, Allah melengkapi pemimpin dengan kompetensi dan kapasitas penuh (rohani, pengetahuan, karunia, kecerdasan, ketrampilan dan pengalaman). Kapasitias inilah yang akan menopang kinerja pemimpin Kristen menjadi efektif, efisien dan berkualitas tinggi. 

Berdasarkan kesaksian Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru memperlihatkan fakta bahwa pemimpin-pemimpin yang ada di dalam Alkitab (Musa, Nehemia, Tuhan Yesus dan rasul Paulus serta yang lainnya) adalah pemimpin-pemimpin yang memiliki kapasitas dan kompetensi tinggi serta kinerja yang berkualitas. 

Kesanggupan semacam ini dapat disebut sebagai kecakapan khas lebih yang memberi kemampuan untuk   memimpin dan menggerakkan bawahan atau orang yang dipimpin ke arah pencapaian tujuan yang dicanangkan. Pemimpin-pemimpin dimaksud, telah membuktikan diri sebagai pemimpin kompeten karena berhasil memanajemeni tugas kepemimpinan dari awal ke akhir dengan efektif, efisien dan produktif. 

Dengan demikian, pemimpin Kristen dapat mengambil kemanfaatan dari prinsip-prinsip  dan  nilai-nilai  kepemimpinan  yang  telah  dihidupi  oleh   pemimpin dalam Alkitab, guna membangun landasan yang kokoh menjadi pemimpin berkompeten. Pemimpin Kristen hanya dapat mewujudkan kapasitas dirinya menjadi lengkap apabila secara bertanggung gugat dan bertanggung jawab menempatkan diri dalam suatu proses pengembangan kapasitas dirinya secara terencana, komprehensif dan terfokus. 

Di sini pemimpin bertanggung jawab mengembangkan diri dalam aspek pengetahuan, kecakapan sosial dan ketrampilan yang akan menopang kesuksesan kinerja kepemimpinannya. Pada sisi lain, kualitas kinerja dan kesuksesan kepemimpinan ditentukan juga oleh gaya kepemimpinan yang digunakan oleh seorang pemimpin dalam memimpin organisasi. Pemimpin Kristen perlu mengetahui, mengerti, dan memahami teori-teori kepemimpinan serta konsisten mengimplementasikannya secara akurat dalam melaksanakan tugas kepemimpinannya.



[1] Tim Penyusun, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2001, hml. 1250.
[2] Ibid., hlm. 874.
[3] Ibdi., hlm. 708.
[4]Ibid., hlm. 570.
[6] Joyce Meyer, Membangkitkan Roh Kepemimpinan, Jakarta: Trinity Publishing, 2002, hlm. 304.
[7] John C. Maxwell, 21 Menit Paling Bermakna dalam Hari-hari Pemimpin Sejati, Batam Center: Interaksara, 2002, hlm. 123.
[8] George Barna, Leaders On Leadership, Malang: Gandum Mas, 2002, hlm. 103. 
[9] John H. Zenger and Joseph Folkman, The Handbook For Leaders, New York: McGrawHill, 2004, hlm. 13-14.
[10] Yakob Tomatala, Anda Juga Bisa Menjadi Pemimpin Visioner, Jakarta: YT Leadership Foundation, 2005, hlm. 56-57.
[11] Leroy Eims, 12 Ciri Kepemimpinan yang Efektif, Bandung: Kalam Hidup, 2003, hml. 149-150.
[12] Bob Gordon, Visi Seorang Pemimpin, Jakarta: Nafiri Gabriel, 2000, hlm. 84.
[13] Gerge Barna, Op. Cit., hlm. 137.
[14] John C. Maxwel, Op. Cit., hlm. 87-88.
[15] Jansen H. Sinamo, Kepemimpinan Kristiani, Jakarta: UPI STT, 2001, hlm. 143-144.
[16] Leroy Eims, Op. Cit., hlm. 143.
[17] Kenneth O. Gangel, Membina Pemimpin Pendidikan Kristen, Malang: Gandum Mas, 1998, hlm. 164-165.
[18] Leroy Eims, Op. Cit., hlm. 14.
[19] John C. Maxwell, Op. Cit., hlm. 84.
[20] Stacy T. Rinehart, Paradoks Kepemimpinan Pelayan, Jakarta: Imanuel, 2003, hlm. 76.
[21] J. Oswald Sanders, Kepemimpinan Rohani, Batam Centre: Gospel Press, 2002, hlm. 280. 
[22] Leroy Eims, Op. Cit., hlm. 15.
[23] J. Oswald Sanders, Loc. Cit.
[24] Geroge Barna, Op. Cit., hlm. 159.
[25] John H. Zenger and Joseph Folkman, Op. Cit., hlm. 38.
[26] John C. Maxwell, Op. Cit., hlm. 85.
[27] George Barna, Op. Cit., hlm. 136.
[28] John C. Maxwell, Op. Cit., hlm. 115.
[29] Ibid., hlm. 77.
[30] Kenneth O. Gangel, Op. Cit., hlm. 142-143.
[31] John C. Maxwell, Op. Cit., hlm. 82-84.
[32] George Barna, Op. Cit., hlm. 291.
[33] Ibid., hlm. 46.

Landasan Teori Tentang Kepemimpinan Landasan Teori Tentang Kepemimpinan Reviewed by Yohanes Ratu Eda on 17:28 Rating: 5
Powered by Blogger.