Sikap Pemimpin Dalam Menyikapi Tantangan Kepemimpinan Part 1

Sikap pemimpin dalam menyikapi tantangan kepemimpinan – Pemimpin selalu dihadapkan dengan tantangan kepemimpinan baik yang datang dari luar organisasi (eksternal) maupun tantangan yang muncul dari dalam (internal organisasi). Seorang pemimpin yang baik, harus terbuka dalam menerima kritik, belajar dari kegagalan, menyadari keterbatasan diri, siap menghadapi penghianatan/penolakan, serta harus menundukkan ego.

Pertanyaan penting yang harus diajukan ialah: “Apa saja sikap pemimpin dalam menyikapi tantangan kepemimpinan?” Ada beberapa sikap yang dapat ditumbuh-kembangkan oleh setiap pemimpin dalam menyikapi tantangan kepemimpinan, yaitu:


1. Pemimpin harus menerima kritik
Semua pemimpin mendapat kritik. Bagaimana reaksi seorang pemimpin terhadap kritik, itulah yang membuat berbeda. Biasanya reaksi alamiah kita terhadap kritik melibatkan soal emosi. Dan ini bermula dari perasaan tersinggung, terluka hingga perasaan ingin membalas. Pantas atau tidak patas, masuk akal atau tidak masuk akal, kritik itu menyakitkan. Kita mungkin menyadari bahwa kritik adalah sesuatu yang tidak terhindari, tetapi saat kritik menikam, kita benar-benar merasakannya. 

Fred Smith, yang sudah menjadi mentor bagi banyak pemimpin, menasehati, “Ubalah kritik yang ditujukan kepada Anda menjadi guru yang mengajar”. Kita memerlukan pengajaran yang dapat kita peroleh tentang diri kita sendiri dan tentang tantangan-tantangan yang harus kita hadapi. Kalau kita memandang kritik sebagai sumber pengajaran, maka kritik yang paling menyakitkan pun dapat kita manfaatkan untuk membuat kita maju.

2. Pemimpin harus belajar dari Kegagalan
Winston Churchill sebagaimana dikutib oleh Harold Myra mengatakan: “Mengalami kegagalan demi kegagalan tanpa kehilangan semangat adalah suatu keberhasilan”. John C. Maxwell mengatakan: “Kesederhanaan Henry Ford menyentuh hati nurani saya. Kegagalan tidak pernah menghukum dia, dan bukan hal yang fatal. Seperti sahabatnya, Thomas Edison, ia mengharapkan kegagalan dalam meraih sukses. Ia membiarkan kegagalan sebagai pembimbing, dan melanjutkan berusaha dengan cara yang lebih cerdik dan bijaksana.”

Tidak ada pemimpin yang suka dengan kegagalan. Kegagalan seorang pemimpin menimbulkan konsekuensi yang teramat besar. Kesalahan menilai, kesalahan visi, dan kelemahan pengendalian diri tidak hanya berpengaruh pada diri seseorang, tetapi juga pada pengikut dan tujuannya. Kegagalan tidak dapat dianggap enteng. Kegagalan seumpama pendamping yang tidak terhindari dari sebuah visi yang besar. Tidak ada orang yang dapat menjalani tantangan yang signifikan dan sulit tanpa tersandung beberapa kali. Yang penting bagaimana kita memberi tanggapan. Tujuan kita bukan bebas dari kegagalan.

Tujuan kita adalah mempunyai pola yang semakin efektif. Sebagai penganalisis tokoh-tokoh dunia yang membentuk abad ke 20, David Aikman berkata, “Kualitas luhur seringkali tidak bergantung pada absennya kesalahan, tetapi pada kesediaan untuk dengan cepat mengakui dan memperbaiki kesalahan. Setiap pemimpin harus belajar dari kegagalan. Kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Kegagalan adalah guru yang paling baik untuk memperbaiki kesalahan di masa lalu dan menyambut hari esok yang lebih baik dan berhasil.

3. Pemimpin harus menyadari keterbatasan diri
Kekuatan yang besar biasanya dibarengi dengan kelemahan yang signifikan. Orang yang visioner mungkin saja mengabaikan detail-detail yang vital; pemimpin yang menjadi motor penggerak mungkin saja tidak sadar akan efek negatif yang ditimbulkannya pada diri orang-orang yang dimotorinya. Seorang pemimpin yang efektif, apalagi seorang pemimpin yang piawai menerima kelemahannya sendiri dan memanfaatkannya. Pertama-tama ia mengakui kelemahannya, lalu mengadaptasikannya, mengadakan pendelegasian, dan tak henti belajar.


Dalam banyak hal, sangat bermanfaat untuk menyadari bahwa tidak ada satu orang pun yang tahu sebegitu banyak. Dalam dunia yang begitu luas dan rumit ini, yang dimiliki orang-orang hanyalah seiris tipis pengetahuan dan wawasan. Dalam dunia yang selalu berubah-ubah tidak ada satu set pemgetahuan pun yang cukup untuk dapat diandalkan. John Naisbit berkata: “Untuk masa depan sejauh yang masih dapat diperkirakan, tidak ada satu subyek atau satu set subyek pun yang dapat Anda andalkan, apalagi bagi sisa hidup Anda selanjutnya. Keahlian yang paling perlu kita peroleh sekarang ialah : Belajar bagaimana belajar.” Sebagai seorang pemimpin kita semua mempunyai keterbatasan diri dalam berbagai bidang kehidupan.
Sikap Pemimpin Dalam Menyikapi Tantangan Kepemimpinan Part 1 Sikap Pemimpin Dalam Menyikapi Tantangan Kepemimpinan Part 1 Reviewed by Yohanes Ratu Eda on 16:36 Rating: 5
Powered by Blogger.