Sikap Pemimpin Dalam Menyikapi Tantangan Kepemimpinan

4. Pemimpin harus siap menghadapi teror/penolakan
Pengalaman yang paling menyakitkan bagi seorang pemimpin adalah dikhianati oleh orang yang paling dipercaya atau orang yang kita anggap aman dengan orang itu. Kita dapat bersikap terbuka, apa adanya. Shock dan kepahitan yang dialami orang yang dikhianati serupa dengan yang dialami orang yang diceraikan oleh pasangan hidupnya, ditolak oleh sang kekasih yang seharusnya mencintai dan melindungi.

Dalam banyak hal, kepemimpinan adalah suatu jalinan hubungan, dan kalau Anda seorang pemimpin yang efektif, umumnya Anda perlu membangun hubungan yang dekat dengan orang-orang. Wajar, awalnya kita bersikap hati-hati, jangan terlalu mempercayai seseorang. Kita sadar bahwa kita harus membuat penilaian yang tepat tentang siapa yang dapat kita percayai. Bila tidak akibatnya akan membuat kita teramat menderita. Namun demikian, ada kalanya pemimpin yang paling cermat dalam membuat penilaian pun bisa terkecoh oleh orang-orang lihai berpura-pura tulus bersahabat.


Pada kenyataannya orang itu mempunyai agenda yang berbeda. Seorang pemimpin selalu berhadapan dengan bahaya semacam itu. Dalam sebuah survei di kalangan para pendeta, jurnal leadership mendapai sekitar enam puluh persen dari para pendeta pernah mengalami setidaknya satu kejadian traumatis yang terlalu sulit untuk diterima. Kebanyakan dari mereka mengatakan bahwa mereka merasa dikhianati oleh orang-orang yang mereka sangka dapat dipercaya. 

Mungkin Anda tidak akan pernah mengalami penghianatan. Tetapi pada kenyataannya, ini sesuatu yang sangat mungkin Anda alami suatu hari di masa depan. Mungkin saja Anda diberondong kata-kata sumbang, dipermalukan dan ditertawakan atau ada orang yang menentang atau mencela perbuatan kasih Anda. Bagaimana Anda memberi rekasi saat hal tersebut terjadi akan menentukan apakah Anda akan terus mengemban kepemimpinan dengan penuh daya dan semangat atau Anda akan jatuh menjadi korban.

Helen Keller mengatalkan: “ Pembentukan karakter tidak terjadi dalam kemudahan dan ketenangan. Hanya lewat cobaan dan penderitaan sajalah jiwa dapat diperkuat, visi dapat diperjernih, ambisi terinspirasi, dan keberhasilan tercapai.” Jika Anda mendapat cercaan atau ejekan dari pihak-pihak yang tidak menginginkan kemajuan Anda maka jangan menyerah, jangan merendahkan diri ke tingkatan mereka. Anda harus tetap percaya diri dalam melakukan tugas Anda dengan sebaik mungkin.

McCornick mengatakan: “Jangan menyerah! Bekerjalah dengan giat. Bertahan dan sabar. Mungkin akan menghabiskan banyak waktu............Jangan menyerah terhadap tekanan orang-orang yang menyukai status quo. Anda bisa mencapai hasil yang lebih baik – demikian pula halnya dengan organisasi tempat Anda bernaung.”

5. Pemimpin harus menundukkan ego
Kata “ego” setidaknya mempunyai dua definisi 1) “memandang atau menilai diri sendiri secara berlebihan”, sama dengan kesombongan; 2) “kesadaran akan martabat dan nilai diri”’ sama dengan respek terhadap diri sendiri. Menundukkan ego berkaitan dengan seberapa efektifnya ego kita ditandai oleh definisi kedua, bukan definisi kesatu. Penundukkan ego berhubungan dengan kerendahan hati. Kerendahan hati bukan menyangkal kemampuan yang ada pada diri Anda, tetapi menyadari bahwa kemampuan itu datang melalui Anda, bukan dari Anda. Di bidang politik dan perdagangan, kerendahan hati bukanlah suatu sifat yang diinginkan atau diperlukan. Pemimpin mencari nama dan kedudukan. Tetapi menurut ukuran Allah, kerendahan hati mendapat tempat yang sangat tinggi.

Tidak menonjolkan diri, tidak mengiklankan diri adalah definisi yang diberikan Kristus untuk kepemimpinan. Pada waktu melatih murid-murid-Nya untuk kedudukan kekuasaan pada masa yang akan datang, Ia berkata kepada mereka, agar mereka tidak menjadi sombong dan suka berkuasa seperti penguasa yang sewenang-wenang, melainkan hendaknya mereka rendah hati dan sederhana seperti Tuhan mereka (Mat. 20:25-27). 

Seorang pemimpin rohani akan memilih pelayanan yang penuh pengorbanan yang tidak digembor-gemborkan dan yang sesuai dengan kehendak Tuhannya, bukan tugas yang megah dan pujian yang berlebih-lebihan dari orang-orang yang tidak rohani. Kerendahan hati seorang pemimpin sama seperti kerohaniannya, harus menjadi sifat yang terus bertumbuh. Kita dapat mengambil pelajaran dari kerendahan hati Paulus yang semakin bertambah dengan berlalunya waktu.

Pada permulaan pelayanannya, sementara ia mengingat kisah hidupnya yang telah berlalu dan yang sekarang sangat dibencinya, ia mengaku. “Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul” (I Kor 15:9). Beberapa waktu kemudian secara sukarela ia berkata, “Kepadaku, yang paling hina diantara segala orang kudus , telah dianugerahkan kasih karunia ini” (Ef.3:8). Ketika usianya semakin lanjut, dan ia sedang mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Tuhannya, ia berkata dengan sedih, “Akulah yang paling berdosa” (I Tim 1:15).

Dalam bukunya Serius Call, William Law menasehatkan: Biarlah tiap-tiap hari menjadi kesempatan untuk rendah hati: memaklumi segenap kelemahan dan kerapuhan sesama manusia, menutupi kelemahan mereka, mengasihi sifat-sifat yang baikmendorong kebajikan mereka, mencukupkan kebutuhan mereka, bersukacita di dalam kecukupan mereka, menghibur mereka yang dalam kesusahan, menerima persaha-batan mereka, mengabaikan sikap mereka yang tidak baik, mengampuni kebencian mere-ka,menjadi hamba dari segala hamba, dan menyediakan diri untuk melakukan pekerjaan yang paling hina yang dilakukan manusia yang terendah. Penundukkan ego sangat diperlukan oleh seorang pemimpin kontekstual supaya ia dapat melihat keindahan di balik sikap yang mulia itu.


Sikap Pemimpin Dalam Menyikapi Tantangan Kepemimpinan Sikap Pemimpin Dalam Menyikapi Tantangan Kepemimpinan Reviewed by Yohanes Ratu Eda on 16:37 Rating: 5
Powered by Blogger.